Kamis, 29 November 2012

ANALISIS CERPEN



“PEREMPUAN DI MAKAM, KARYA : MUSTAFA ISMAIL”
Oleh : Abdul Aziz
a.      Sinopsis
Cerpen ini dimulai dengan tokoh Aku yang melihat  keadaan seorang perempuan yang depresi, kemudian Heru saudaranya menjelaskan bahwa  setiap harinya peremuan itu berada di makam pada pagi sampai siang hari. Ia selalu ditemani oleh seorang kucing selama beberapa tahun yang lalu.
Konon, ia suka pergi ke makam ada beberaa cerita yang berkebang di masyarakat. Awalnya perempuan tersebut merupakan gadis yang cantik nan jelita, ia selalu membantu ibunya yang membuka warung kopi sebagai tempat singgah para awak truk. Kemudian salah satu dari awak tersebut mencintai perempuan itu, cintanyapun disambut olehnya. Akhirnya keduanya menikah.
Singkat cerita, suatu malam datanglah kabar duka bahwa suaminya meninggal secara tiba-tiba. Ia pun sangat terpukul dengan kabar tersebut. Banyak keluarga dan handai taulan yang mensport dirinya, sampai kernet truk suaminya sangat memberikan dorongan kepadanya sampai-sampai ia selalu membawa oleh-oleh layaknya suaminya ketika  suaminya masih hidup. lama-kelamaan  mereka berdua saling jatuh cinta, dan mereka menjalin hubungan dengan kernet tersebut. Namun, disuatu hari ia   bermimpi suaminya yang telah meninggal berkeadaan sangat memprihatinkan, sang suami memanggil-manggilnya. Setelah kejadian itu, ia selalu ke makam suaminya seraya berdoa dan memohon maaf.
Setelah mendengar kisah tersebut, sang tokoh aku ingat akan cerita Miwa Mah, yang bermimpi suaminya berada di hutan pandan. Dan akhirnya suaminya ditemukan tewas disana.
Setelah beberapa sang tokoh Aku tak milehat perempuan tadi di makam sampai hari-hari berikutnya.  Sang tokoh akupun pulang kembali kejakarta dengan anak dan istrinya. Namun, ditengah perjalanan ia bermimpi perempuan tadi.
Lebaranpun tiba, tokoh Aku dan keluarganya pergi kemakam untuk ziarah, dan akhirnya ia melihat perempuan itu lagi.
b.      Pembahasan
Kisah “Perempuan Di Makam” karya Mustafa Ismail merupakan karya sastra yang berbentuk prosa, tepatnya cerpen. Karena, cerita ini mengisahkan kisah seorang manusia, dan juga kisah ini merupakan cerita yang lumayan pendek yakni hanya tiga halaman, begitu juga cerita ini memiliki karakter, plot dan setting yang terbatas dalam artian hanya beberapa karakter yang dimainkan yakni Tokoh Aku, Perempuan dan Heru. Begitu juga setting, baik itu setting waktu yang hanya pada pagi dan siang hari dan lebaran, dan jga setting tempat yang hanya di makam, rumah Heru, dan kereta api. Hal ini mengacu pada definisi cerpen menurut Sumarjo dan Saini KM.  Cerpen (cerita pendek) adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek, artinya cerita bentuk ini dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Selain itu, cerita bentuk ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. (Jakob Sumarjo & Saini KM : 1986).
Dalam cerpen ini juga, terdapat beberapa unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik yang ada dalam cerpen pada umumnya. Adapun analisis dari unsur-unsur tersebut ialah sebagai berikut;
1.      Unsur Intrinsik
-          Tema
Menurut Scharbach “Tema” berasal dari bahasa Latin  yang berarti ‘tempat meletakkan sesuatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Lebih lanjut Scharbach menjelaskan bahwa tema is not synonymous with moral or message… theme does relate to meaning and purpose, in the sense.(Aminudin : 2010).
Untuk menentukan tema dalam sebuah cerpen, terlebih dahulu kita harus mengetahui penggolongan tema sendiri, yang akhirnya kita dapat menentukan apa tema inti dari cerpen tersebut.
Pada dasarnya penggolongan tema itu  terdapat tiga sudut pandang, yakni penggolongan dikhotomis, penggolongan dilihat dari pengalamn jiwa, dan dari tingkat keutamaanya. (Burhan Nurgiyantoro : 2010).
Adapun dari segi penggolongan dikhotomis, cerpen karya Mustafa Ismail ini termasuk tema non-tradisional, karena cerpen yang terjadi itu diluar sangkaan pembaca yang ketika pertama melihat judulnya dan setelah selesai membacanya pemahaman terhadap cerpen ini akan berbeda. Disamping itu, cerpen ini juga membawa beberapa reaksi efekitf bagi pembacanya, cerpen ini membawa pembaca terheran-heran dengan keadaan si perempuan di makam tersebut.  Hal ini mendasar dan sesuai dengan pengertian tema nontradisional yaitu tema yang mengangkat sesuatu yang tidak lazim. Karena sifatnya yang nontradisional, tema yang demikian, mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau berbagai reaksi efektif yang lain.(Burhan Nurgiyantoro : 2010).
Kedua penngolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa, yakni yang mendasar pada tingkatan tema menurut Shipley, ada lima tingkatan tema menurut Shipley, yakni (Burhan Nurgiyantoro : 2010) :
-   Tema tingkat fisik, manusia sebagai (atau dalam tingkat kejiwaan) molekul,man as molecul.
-   Tema tingkat organik, manusia sebagai manusia sebagai (atau dalam tingkat kejiwaan) protoplasma, man as protoplasm.
-   Tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk social, man as sociuos.
-   Tema tingkat egoik, manusia sebagai individu,man as individualism.
-   Tema tingkat divine, manusia sbagai makhluk tingkat tinggi, yang belum tentu setiap manusia mengalami atau mencapainya.
Dari kelima tema tersebut, cerpen ini termasuk dalam tema tingkat individual yakni tema tingkat egoik. Karena pada dasarnya dalam cerpen ini tingkat ke-individualnya tinggi, terbukti dengan sikap keacuhan sang perempuan itu, ia selalu menyendiri, menjauh dari keramaian. Namun, disisi lain jika kita melihat pada tokoh Aku cerpen ini bisa saja masuk pada tingkat sosial, yang mana sang tokoh Aku tingkat kepeduliannya itu sangat tinggi, sehingga ia kembali ke pemakaman pada esok harinya hanya untuk melihat perempuan tersebut.
Adapun penggolongan tema dari tingkat keutamaannya itu ada dua. Tema Utama dan Tema Tambahan. Adapun tema mayor atau tema utama nya ialah seperti penulis utarakan tadi yakni “Mitos Dalam Sebuah Mimpi”, terbukti dari paragraf ke paragraf yang lain itu bahasannya mimpi yang sering muncul. Dan mereka memperdebatkan tentang kebenaran dari sebuah mimpi tersebut. sedangkan tema minor dalam cerpen ini ialah sebagai berikut;
-   Kesetiaan, hal ini ditandai dengan setianya seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, namun kesetiaan itu  hanya beberapa lama.
-   Keagamaan, tema keagamaan ini, ditandai dengan sang tokoh aku yang berziarah, membaca surat yasin, doa. Selain itu, terdapat kata-kata yang menunjukkan sikap tawakkal pada Allah SWT, yaitu “kita boleh saja merasa kehilangan, tapi kita tidak boleh selalu larut dalam duka. Kita harus kuat menerima kematian itu sebagai kehendak-Nya”.
-   Kesedihan
-   Cinta
-   Budaya
-          Alur/plot
Pada dasarnya alur/plot itu sering juga disebut jalan cerita. Namun, terdapat perbedaan antara keduanya. Adapun alur itu hanya merupakan sebuah jalan cerita, sedangkan plot merupakan penggerak kejadian cerita yang didalamnya terdapat hubungan sebab akibat, dan dapat menyebabkan kejadian lain (Jakob Sumarjo & Saini KM : 1986).
Dalam plot juga terdpat unsur-unsur yaitu ;
Ø  Pengenalan, terdapat dalam wacana pertama, yakni penceritaan perempuan yang sering ke makam suaminya setelah beberapa tahun yang lalu.
Ø  Timbulnya konflik, konflik timbul ketika suaminya meninggal dunia ketika dalam perjalanan pulang dari Sumatra ke Jawa.
Ø  Konflik memuncak , Setelah beberapa lama suaminya meninggal ia menjalin percintaan dengan kernet truk suaminya..
Ø  Klimaks, adapun klimaksnya ialah suatu malam ia bermimpi suaminya yang memanggil-manggil dirinya.
Ø  Ending, ia setiap hari pergi ke makam suaminya mendoakan dan memohon maaf.
Adapun alur yang digunakan dalam cerpen ini ialah alur flashback, yaitu alur mundur, karena cerita ini menggunakan alur mundu.
-          Setting
Setting merupakan tempat atau terjadinya cerita. Setting itu terbagi menjadi tiga;
a.         Setting waktu, adapun setting waktu yang terjadi dalam cerpen ini ialah Pagi, siang, lebaran, tujuh tahun yang lalu.
b.        Setting Tempat, tempat yang ada dalam cerpen ini yaitu ; makam, rumah heru, warung kopi, kereta api.
c.         Setting Suasana; hening, sepi, mengkhawatirkan dan menakutkan.
-          Penokohan
Menurut Abrams, tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. (Burhan Nurgiyantoro : 2010).
a.       Tokoh Aku ; agamis, serba ingin tahu, baik, perhatian dan sering khawatir.
b.      Tokoh Perempuan ; pemurung, pendiam, mudah mencintai, mudah depresi.
c.       Heru; serba tahu, terbuka, penyabar, seriusan.
-          Amanat
Amanat/pesan moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya yang disampaikan lewat cerita. Amanat/ pesan moral pada umumnya mempunyai pengertian sebagai ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan sebagainya. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang tentang nilai-nilai kebenaran. (Burhan Nurgiyantoro : 2010).
Adapun amanat dalan cerpen ialah ;
a.       Jangan terlalu percaya dalam sebuah kebenaran mimpi.
b.      Jangan terpuruk dalam kesedihan.

0 komentar:

Poskan Komentar