Senin, 15 Desember 2014

KEADAAN PALESTINA DALAM PUISI AL-QUDS KARYA NIZAR QABBANI DAN DARAH PALSETINA KARYA AKHMAD TAUFIQ

KEADAAN PALESTINA DALAM PUISI AL-QUDS KARYA NIZAR QABBANI DAN DARAH PALSETINA KARYA AKHMAD TAUFIQ
(Revisi)
Oleh : Abdul Aziz / 1211502001

A.  Pendahuluan
Palestina merupakan Negara yang menjadi sorotan utama di Negara-negara Timur Tengah, karena konfliknya yang begitu kepanjangan atas Israel. Terdapat banyak karya sastra yang lahir dari keadaan Palestina ini, baik itu puisi, drama, maupun novel. Ada banyak karya sastra khususnya puisi yang merujuk atau menjelaskan keadaan Palestina, salah satunya ialah
puisi Al-Quds Al-Atiqah dan Darah Palestina. Kedua puisi ini mengetengahkan keadaan Palestina yang mengalami kepedihan akibat peperangan yang berlanjut.
Keunikan dalam puisi ini ialah penggambaran kondisi Palestina dituangkan dengan berbagai simbol, simbol yang mewakili kepedihan dan kehancuran Negara Palestina. Walaupun kedua-duanya sama menggambarkan keadaan Palestina yang dituangkan dengan berbagai simbol yang digunakan oleh kedua penyair, namun didalamnya memiliki perbedaan-perbedaan. Untuk mengetahui makna simbolik yang tertuang dalam kedua puisi tersebut, penulis menganalisisnya dengan menggunakan semiotika Riffaterre. Dengan harapan perbedaan dan persamaan penggambaran Palestina dalam kedua puisi tersebut terungkap.
B.  Semiotika Riffatere
Beragam teori sastra telah dilahirkan oleh beragam pakar yang berkecimpung dalam bidang ini. Ada teori sastra yang memfokuskan kajiannya terhadap penulis yang menghasilkan sastra tersebut dan ada pula yang menikberatkan pada karya sastra yang dihasilkannya serta tidak ketinggalan perhatian kepada lingkungan atau situasi yang menjadi tempat lahirnya karya sastra tersebut. Berangkat dari relaitas inilah kemudian Abrams muncul dengan memaparkan beberapa pendekatan kritis untuk menanggapi hal ini, dimana menurutnya terdapat empat pendekatan dalam karya sastra, yaitu: ekspresif atau ekspresi pengarang, pragmatik atau mencapai efek-efek tertentu, objektif atau kebebasan dari lingkungan dan mimetik atau tiruan atau cerminan (Pradopo, 1997: 26-27; Pradopo, 1995: 140, Teeuw, 1984: 50).
Dari beberapa pendekatan kritis ini kemudian lahir sekian ragam teori sastra yang dikemukakan oleh para ahli. Dan di antara beragam teori tersebut, terdapat sebuah teori yang dibangun berdasarkan suatu asumsi bahwa sebuah karya sastra itu sendiri dari tanda-tanda atau simbol yang dapat diinterpretasikan atau ditafsirkan. Teori yang dimaksudkan adalah apa yang kemudian dikenal sebagai teori semiotik.
Semiotik adalah suatu metode analisis untuk mengkaji suatu tanda (Nurgiantoro, 2000: 40). Di samping itu, teori ini seringkali juga disebut sebagai suatu ilmu yang mempelajari objek-objek, peristiwa-peristiwa dan seluruh gejala kebudayaan yang ada sebagai tanda (Eco, 1978: 6-7). Atau, sebagian lain menyebutnya sebagai suatu disiplin yang menyelidiki suatu bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs (tanda-tanda) dan berdasarkan pada sign system (code) atau sistem tanda (Segers, 2000: 4). Suatu tanda mempunyai dua aspek, yaitu: penanda (signifer) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu yaitu artinya (Pradopo, 2001: 71).
Untuk keperluan penelitian ini, peneliti akan menggunakan teori semiotik seperti yang dikemukakan oleh Michael Riffatere dalam buku Semiotics of Poetry, dimana bersama dengan Roland Barthes, Riffatere mengkaji semiotik melalui pendekatatan model post-strukturalisme. Mereka mendasarkan pendapatnya pada suatu asumsi bahwa jika makna hanya ditelaah hanya melalui strukturnya yang dilambangkan dalam kata, maka tidak akan selamanya mampu menampung hakekat makna. Hal ini terjadi karena dalam konteks bahasa sastra yang kompleks, tidak jarang esensi makna justru terdapat di luar makna tersebut, atau makna tidak selalu hadir sesuai dengan penanda strukturnya (Fannanie, 2001: 144-145).
Sebagai implementasi dari pemikiran dan pernyataan tersebut, kemudian Riffatere menulis sebuah buku berjudul Semiotics of Poetry yang memaparkan empat hal penting yang harus dipenuhi dalam pengungkapan sebuah karya sastra. Keempat hal penting tersebut adalah sebagai berikut (Eco, 1978: 6-10; Pradopo, 2001: 75-85; Pradopo, 1990: 30-246; Endraswara, 2006: 63-67) :
1.      Puisi adalah ekspresi tidak langsung. Hal ini berarti bahwa ekspresi tersebut memiliki arti lain ketika diungkapkan. Adapun sebab-sebabnya adalah : a) penggantian arti; b) penyimpangan arti; c) penciptaan arti.
2.      Pembacaan heruistik dan hermeneutik. Pada tahap pertama puisi dibaca dengan pembacaan heruistik, yaitu pembacaan yang bertumpu pada tata bahasa, baik dari aspek gramatikal, bunyi ataupun artinya. Metode ini dinamakan Semiotik Tingkat Pertama atau first order semiotics. Akan tetapi, penerapan langkah pertama ini ternyata tidak sampai pada arti yang sebenranya yang dikehendaki oleh penyair. Untuk itu, dibutuhkan metode yang kedua, yaitu pembacaan hermeneutik untuk mendapatkan arti yang sebenarnya sebagaimana yang dikehendaki oleh penyair. Metode ini dinamakan dengan Semiotik Tingkat Kedua atau second order semiotics.
3.      Untuk memperjelas (dan mendapatkan) makna puisi (karya sastra) secara lebih mendalam, maka selanjutnya dicari tema dan masalah yang terkandung dalam puisi tersebut. Adapun caranya adalah dengan mencari matriks, model, dan varian-varian-nya terlebih dahulu. Suatu ‘matriks’ harus diabstraksikan dari sebuah karya sastra yang dibahas dan tidak dieksplisitkan di dalamnya. Bukan berupa kiasan, tetapi merupakan kata kunci (keyword) yang dapat berupa satu kata, kalimat dan lain sebagainya. Suatu ‘matriks’ belum merupakan tema, tetapi mengarah kepada tema yang dicari. Matriks juga merupakan hipogram intern yang ditransformasikan ke dalam model yang berupa kiasan yang selanjutnya menjadi ‘varian-varian’. Varian ini merupakan transformasi model pada setiap satuan tanda: baris atau bait, bahkan juga bagian-bagian fiksi, seperti: alinea dan bab yang merupakan wacana yang selanjutnya menjadi ‘masalahnya’. Dari ‘matriks’, ‘model’ dan ‘varian-varian’ ini baru dapat ‘disimpulkan’ atau ‘diabstarksikan’ tema sebuah karya sastra.
4.      Seringkali terjadi sebuah karya sastra merupakan transformasi dari teks (lain) sebelumnya yang menjadi ‘hipogram’-nya, yaitu teks yang menjadi latar belakang terciptanya karya sastra tersebut. Hipogram di sini tidak hanya terbatas pada teks yang berupa tulisan, bahasa dan cerita lisan saja, akan tetapi –sebagaimana menurut Teeuw dan Julia Cristiva bahwa dunia dan alam ini pada hakekatnya adalah teks (Teeuw, 1983: 65)- dapat juga berupa adat istiadat, masyarakat dan aturan-aturan.
Tiga dari keempat tahapan dalam semiotika Riffatere akan digunakan oleh penulis dalam menganalisis kedua puisi ini.
1.   Puisi “al-Quds” Karya Nizar Qabbani

القدس
بكيت.. حتى انتهت الدموع 1
صليت.. حتى ذابت الشموع 2
ركعت.. حتى ملّني الركوع 3
 سألت عن محمد، فيكِ وعن يسوع
يا قُدسُ، يا مدينة تفوح أنبياء 5
 يا أقصر الدروبِ بين الأرضِ والسماء 6

يا قدسُ، يا منارةَ الشرائع 7
يا طفلةً جميلةً محروقةَ الأصابع 8
حزينةٌ عيناكِ، يا مدينةَ البتول 9
يا واحةً ظليلةً مرَّ بها الرسول 10
حزينةٌ حجارةُ الشوارع 11
12 حزينةٌ مآذنُ الجوامع
يا قُدس، يا جميلةً تلتفُّ بالسواد 13
من يقرعُ الأجراسَ في كنيسةِ القيامة؟ 14
صبيحةَ الآحاد.. 15
 16 من يحملُ الألعابَ للأولاد؟
في ليلةِ الميلاد17 .

يا قدسُ، يا مدينةَ الأحزان 18
يا دمعةً كبيرةً تجولُ في الأجفان 19
من يوقفُ العدوان؟ 20
عليكِ، يا لؤلؤةَ الأديان 21
 22من يغسل الدماءَ عن حجارةِ الجدران؟
من ينقذُ الإنجيل؟23
24من ينقذُ القرآن؟
 25من ينقذُ المسيحَ ممن قتلوا المسيح؟
من ينقذُ الإنسان؟26

يا قدسُ.. يا مدينتي27
يا قدسُ.. يا حبيبتي28
 29 غداً.. غداً.. سيزهر الليمون
وتفرحُ السنابلُ الخضراءُ والزيتون 30
وتضحكُ العيون..31
وترجعُ الحمائمُ المهاجرة..32
إلى السقوفِ الطاهره 33
ويرجعُ الأطفالُ يلعبون 34
ويلتقي الآباءُ والبنون 35
على رباك الزاهرة.. 36
يا بلدي.. 37
 38 يا بلد السلام والزيتون

2.   Terjemah Puisi
                       Aku menangis, hingga air mataku mengering
aku berdoa, hingga lilin-lilin padam
aku bersujud, hingga lantai retak
aku bertanya,tentang Muhammad dan Yesus
Yerusalem, O kota nabi-nabi
jalan pintas, antara surga dan bumi!

Yerusalem, kota seribu menara
seorang gadis cilik yang cantik
dengan jari-jari terbakar
Kota sang perawan,
matamu terlihat murung.
Oh bayangan yang dilewati sang Nabi,
bebatuan jalananmu bersedih
menara-menara masjid pun murung.
Kota yang dilaburi warna hitam,
siapa yang akan membunyikan
lonceng-lonceng makam suci
pada hari Minggu pagi?
siapa yang akan memberi mainan
bagi anak-anak
pada perayaan natal ?

Kota penuh duka,
O, air mata yang sangat besar
bergetar di kelopak matamu,
siapa yang akan berdiri pada peperangan?
Kepadamu mutiara kedua agama
Siapa yang akan mencuci darah pada batu kerikil?
siapa yang akan menyelamatkan Injil?
siapa yang akan menyelamatkan Quran?
siapa yang akan menyelamatkan Kristus?,
siapa yang akan menyelamatkan manusia?

Yerusalem, kotaku tercinta
esok pepohonan lemonmu akan berbunga
batang dan cabangmu yang hijau
tumbuh dengan gembira
dan matamu berseri-seri.
merpati-merpati yang bermigrasi
akan kembali ke atap-atapmu yang suci
dan anak-anak akan kembali bermain
orang tua dan anak-anak akan bertemu
di jalananmu yang berkilauan
kotaku, kota zaitun dan kedamaian.



3.   Puisi “Darah di Palestina” Karya Akhmad Taufiq
DARAH DI PALESTINA
Karya  : Akhmad Taufiq

KULIHAT DARAH SEPANJANG SEJARAH
DI TANAH PALESTINA
ENTAH ATAS NAMA APA
ATAS NAMA TUHANKAH?

AH, TIDAK,
TUHAN TAK PERNAH SERU TUMPAHKAN DARAH…
ENTAH ATAS NAMA APA
ATAS NAMA KEANGKUHANKAH
YA, ATAS NAMA KEANGKUHAN
JIWA-JIWA MANUSIA KERDIL DAN LELAH

KULIHAT DARAH DI HAMPARAN SAJADAH
ANAK ANAK PALESTINA, …
YANG TERKULAI DALAM DEKAP
ISTIRAH BUMI YANG MEMERAH

GAZA DAN RAFAH MENJADI LAHAN AMARAH
GAZA DAN RAFAH MENJADI SAKSI
IBU DAN ANAK ANAK PALESTINA
MEMUNTAH DARAH

TUHAN,
ANAK-ANAK KECIL YANG MESTINYA BERGELUT SENDA
KINI SIBUK BERBARING DAN MENYEKA DARAH
TUHAN,
ANAK-ANAK YANG MESTINYA BERNYANYI DAN BERISTIRAH
KINI SIBUK BERLARI DI LORONG-LORONG RAFAH
TUHAN,
RIBUAN ANAK-ANAK PALESTINA MENGGIGIL DINGIN
MENAGISI KEHIDUPAN
RIBUAN TENTARA ISRAEL BERSORAK SORAI
MERAYAKAN KEMATIAN

TUHAN,
ATAS NAMA APAKAH GERANGAN?
INILAH ”KATANYA” TANAH YANG DIJANJIKAN
TANAH PARA NABI MENGISTIRAHKAN DIRI
PADA YANG ILAHI
BUKAN TANAH ORANG YANG MENG-KLAIM DIRI
ANAK PARA NABI YANG SUKA MENYANJUNG DIRI
ITULAH TANAH,
TEMPAT ANAK-ANAK PALESTINA BERNYANYI DALAM
TARIAN ILAHI

ITULAH TANAH,
TEMPAT ANAK-ANAK PALESTINA BERSIMPUH DAN MENYATUKAN DIRI
TUHAN,
SELAMATKAN MEREKA INI!!!

C.  Keadaan Palestina dalam Puisi Al-Quds Karya Nizar Qabbani dan Darah Palestina Karya Akhmad Taufiq
c.1      Pembacaan Heuristik
c.1.a            Pembacaan Heuristik Puisi Al-Quds Karya Nizar Qabbani
Aku menangis (melihat keadaan kota Yerussalem) (tanpa henti) hingga air mataku mengering. aku berdoa (pada Tuhan) hingga lilin-lilin padam (habis terbakar api) aku bersujud (tanpa kenal waktu) hingga lantai retak. aku bertanya (pada Allah) tentang (keadaan) Muhammad dan Yesus (Islam dan Kristen)?
Yerusalem, O kota nabi-nabi (yang bercahaya) jalan pintas (terpendek) antara surga (Allah dan surga Yesus) dan bumi! Yerusalem, kota seribu menara (kubah-kubah agama) seorang gadis cilik yang cantik dengan jari-jari terbakar (oleh api kebencian)
Kota sang perawan, mata (rakyat) mu terlihat murung. Oh bayangan (oasis) yang dilewati sang Nabi, bebatuan jalananmu (ikut) bersedih, menara-menara masjid pun murung.
Kota yang (keindahannya) dilaburi warna hitam (kelam), siapa yang akan (peduli untuk) membunyikan lonceng-lonceng makam suci pada hari Minggu pagi? siapa yang  (peduli untuk) memberi mainan bagi anak-anak pada perayaan natal ?
Kota penuh duka, O, air mata yang sangat besar bergetar di kelopak mata (mu), siapa yang akan (manjadi pahlawan untuk) berdiri (gagah) pada peperangan? Kepadamu (wahai kota tempat lahirnya) mutiara kedua agama (islam dan kristen).  Siapa yang (berani) mencuci darah pada batu kerikil? siapa yang (nantinya) akan  (peduli) menyelamatkan Injil? siapa yang (nantinya) akan  (peduli) menyelamatkan Quran?
siapa yang (berani) akan menyelamatkan Kristus (dari para pembunuh)?, siapa yang akan menyelamatkan manusia? Yerusalem, kotaku tercinta
(aku harap) esok (kotamu) pepohonan lemon  yang  berbunga (nan segar) batang dan cabangmu yang hijau (kembali) tumbuh dengan gembira dan mata (rakyat) mu berseri-seri. merpati-merpati yang bermigrasi (ke negara tetangga) akan kembali ke atap-atapmu yang suci dan anak-anak akan kembali bermain (dengan bebas) orang tua dan anak-anak akan bertemu (setelah sekian lama berpisah) di jalananmu yang berkilauan(kedamaian). (semoga) kotaku, (kembali menjadi) kota  (yang kaya akan buah) zaitun dan (penuh dengan) kedamaian.
c.1.b           Pembacaan Heuristik Puisi Darah Palestina Karya Akhmad Taufiq
Kulihat  darah (kematian) sepanjang (jalanan Palestina yang menjadi) sejarah, (yang tercecer) Di tanah palestina. (Kematian itu) Entah atas nama apa. Atas nama tuhankah (mereka membunuh orang-orang palestina)?
Ah, (itu) tidak(lah sebuah alasan) (karena) Tuhan tak pernah seru tumpahkan darah (untuk saling membunuh)… Entah atas nama apa (Mereka membunuh) Atas nama keangkuhankah Ya, (mereka membunuh) atas nama keangkuhan (orang-orang yahudi), (yaitu) Jiwa-jiwa manusia kerdil dan lelah.
Kulihat darah (tercecer) di hamparan sajadah, (mayat) Anak anak palestina, … Yang terkulai (terbujur kaku) dalam dekap Istirah bumi yang memerah (oleh darah tak berdosa)
(kini Kota) Gaza dan Rafah menjadi lahan amarah (permusuhan), Gaza dan rafah menjadi saksi (bisu), Ibu dan anak anak palestina Memuntah darah (atas penyerangan Israel)
(Oh) Tuhan, (Mngapa) Anak-anak kecil yang mestinya (sekarang) bergelut senda (dengan bebas), (tapi) Kini (mereka) sibuk berbaring (lemah) dan menyeka darah (dirinya, temannya, atau keluarganya) (?)
(Oh) Tuhan, (Mengapa) Anak-anak yang mestinya bernyanyi (riang) dan beristirahat, (Tapi) Kini sibuk berlari (bersembunyi) di lorong-lorong Rafah
 (Oh) Tuhan, (Kini) Ribuan anak-anak palestina menggigil dingin (karena) Menagisi kehidupan (yang amat getir), (sedangkan) Ribuan tentara israel bersorak sorai Merayakan kematian (masyarakat Palestina)
(Oh)Tuhan, (semua ini) Atas nama apakah gerangan? (apakah) Inilah (yang) ”katanya” tanah yang dijanjikan (yaitu) Tanah para nabi mengistirah(at)kan diri (mereka dan bermunjat) Pada (sang) ilahi. nah (tanah ini) Bukan tanah (milik) orang yang meng-klaim (bahwa) diri (mereka adalah) Anak para nabi yang suka menyanjung diri
(Tanah) Itulah tanah, (sebagai) Tempat anak-anak palestina bernyanyi (riang) dalam Tarian ilahi
Itulah tanah, Tempat anak-anak palestina bersimpuh dan menyatukan diri (beribadah kepada) Tuhan,
Selamatkan mereka ini!!! (oh Tuhan)

c.2      Pembacaan Hermeneutik
c.2.1 Hermeneutik dalam puisi Al-Quds karya Nizar Qabbani
Puisi al-Quds ini secara keseluruhan menunjukkan keprihatinan dan kekecewaan pengarang terhadap kehancuran Palestina. Dalam bait pertama penyair mengungkapkan rasa keprihatinan dengan menggunakan allegori, yakni cerita kiasan atau lukisan kiasan (Pradopo, 71 : 1995). Cerita kiasan mengenai sang pengarang yang mengalami kesedihan dengan menceritakan keadaan dirinya yang terus berdoa dan shalat untuk keselamatan Yerussalem. Penyair mencoba mengungkapkan bahwa Tuhan merupakan sarana untuk mengadu, bertanya, dan meminta. Selain itu, penyair mencoba mengungkapkan bahwa walaupun di kota Yerussalem ini terdapat dua agama yang berbeda, mereka tetap dapat menghormati sesama manusia.  hal ini bisa kita lihat larik pertama sampai keempat: Aku menangis, hingga air mataku mengering. Aku berdoa, hingga lilin-lilin padam. aku bersujud, hingga lantai retak. Aku bertanya, tentang Muhammad dan Yesus.
Pada bait kedua dan ketiga, sang pengarang berusaha untuk menceritakan keadaan yang tengah terjadi di kota tersebut, keindahan kota sebagai simbol kedamaian dua agama menjadi hancur dan tanpa masa depan yang cerah. Pada kali ini penyair mengungkapkan kehancuran tersebut dengan personifikasi, yakni menkiasan beberapa benda yang menjadi simbol kehancuran dan benda tersebut seakan-akan ia dapat merasakan kepedihan yang mendalam seperti yang dirasakan oleh manusia. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh penulis: matamu terlihat murung. bebatuan jalananmu bersedih, menara-menara masjid pun murung. Kota yang dilaburi warna hitam. Begitu juga penyair pada akhir-akhir bait ini berusaha melakukan pembicaraan kepada Yerussalem ataupun kepada semua pembaca seolah menuntut pertanggung jawaban atas kerusakan dan kehancuran yang menyeluruh pada kota Yerussalem ini. Ia mempertanyakan mengenai keadaan selanjutnya yang akan dialami Yerussalem tak akan sama dengan hari-hari sebelumnya.
Semangat dan percaya diri muncul dalam benak penyair, seolah memberikan kekuatan kepada masyarakat Palestina untuk kembali seperti keadaan yang dahulu. Bait ini memeperlihatkan sebuah janji sang pengarang untuk membuat kota Yerussalem kembali menjadi kota kedamaian yang masyarakat dan makhluk hidupnya bahagia dan tentram. Ia seolah-olah menuntut janji dan mengharapkan  kemerdekaan dan kebahagiaan kepada Yerussalem dan siapapun masyarakat yang tinggal di kota Yerussalem. Penyair mencoba memberikan kekuatan kepada masyarakat Palestina untuk kembali seperti dahulu. Ungkapan tersebut seperti yang ditulis penyair pada bait terkahir, yaitu: Yerusalem, kotaku tercinta. Esok pepohonan lemonmu akan berbunga, batang dan cabangmu yang hijau, tumbuh dengan gembira, dan matamu berseri-seri. Merpati-merpati yang bermigrasi, akan kembali ke atap-atapmu yang suci, dan anak-anak akan kembali bermain. Orang tua dan anak-anak akan bertemudi jalananmu yang berkilauan. Kotaku, kota zaitun dan kedamaian.
c.2.2 Pembacaan hermeneutik puisi Darah Palestina
Pada bait pertama, kedua, sampai ketiga penyair mengetengahkan penderitaan yang dialami oleh Palestina, penderitaan tersebut digambarkan pada tiap elemen yang ada di Palestina, baik itu di masyarakat, tempat ibadah, maupun anak-anak. Hal ini tertulis sebagaimana berikut: KULIHAT DARAH SEPANJANG SEJARAH, DI TANAH PALESTINA (Bait I), KULIHAT DARAH DI HAMPARAN SAJADAH (Bait II), ISTIRAH BUMI YANG MEMERAH (Bait III), IBU DAN ANAK ANAK PALESTINA, MEMUNTAH DARAH (Bait IV).
Kemudian penyair menuntut kenyataan yang seharusnya terjadi dari realitas yang dirasakan oleh masyarakat Palestina, reidak alitas tersebut jauh terbalik dengan apa yang dirasakan oleh tentara Israel yang senang akan kesengsaraan yang dirasakan oleh masyarakat Palestina. Tuntutan tersebut diajukan kepada Tuhan.Realitas ini tertulis dalam bait ke-5 sampai ke-7.
Selanjutnya, penyair menggambarkan bahwa Palestina merupakan daerah yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, karena Palestina menurut penyair adalah daerah yang penuh kedamaian, toleransi beragama, bumi para Nabi. Seperti beberapa ungkapan penyair dalam bait ke-8; INILAH ”KATANYA” TANAH YANG DIJANJIKAN, TANAH PARA NABI MENGISTIRAHKAN DIRI PADA YANG ILAHI. ITULAH TANAH, TEMPAT ANAK-ANAK PALESTINA BERNYANYI DALAM TARIAN ILAHI.
Terakhir penyair berangan-angan dan berharap agar masyarakat Palestina damai seperti dahulu kala, anak-anak bisa melakukan aktivitasnya dengan bebas, dan memohon untuk keselematan  masyarakat Palestina. Seperti ungkapan penyair berikut ini; ITULAH TANAH, TEMPAT ANAK-ANAK PALESTINA BERSIMPUH DAN MENYATUKAN DIRI. TUHAN, SELAMATKAN MEREKA INI!!! (Bait ke-8).
c.3      Hipogram
Penentuan hipogram atau latar belakang terciptanya sebuah puisi jika merujuk pada pengertian sempit, yaitu berupa karya sastra yang sama, maka akan sangat sulit dilakukan. Meskipun demikian, jika kembali kepada pendapat yang dikemukakan oleh Teeuw dan Cristiva (Teeuw, 1983: 65; Pradopo, 1995 : 82), bahwa pada hakekatnya alam ini adalah hipogram, maka dapat disimpulkan bahwa latar belakang penciptaan puisi ini adalah Palestina dengan segala persoalan yang dihadapinya.

c.4      Perbandingan Keadaan Palestina dalam puisi Al-Quds Karya Nizar Qabbani dan Darah Palestina Karya Akhmad Taufiq
Berikut ini penggambaran keadaan Palestina dalam kedua puisi tersebut;
Al-Quds Karya Nizar Qabbani
Darah Palestina Karya Akhmad Taufiq

Kepedihan rakyat palestina digambarkan dengan tangisan, permohonan sang Aku kepada tuhannya, dan penggambaran Palestina sebagai Negara jalan pintas antara langit dan bumi (Bait 1)
Darah manusia tergeletak, kematian dimana-mana terjadi di Palestina (Bait 1)
Kesedihan dan penderitaan dirasakan oleh semua kalangan, dan lini. Penderitaan tersebut dirasakan oleh anak-anak, bebatuan, jalanan, lonceng-lonceng. (Bait 2-3)
Anak-anak palestina terkulai lemah menginginkan perlindungan di kota yang penuh darah dan duka (Bait 3)
Pahlawan yang tak kunjung dating untuk menyelamatkan Palestina, menyelamatkan Qur’an, Injil, Kristus dan manusia. (Bait 4-5)
Masyarakat Gaza penuh dengan amarah (Bait 5)
Harapan kemenangan dan kedamaian di Palestina (Bait 6-7)
Anak-anak yang harus bergembira, merasakan penderitaan yang amat dalam (Bait 6,7)

Tanah Palestina nan damai, bersatu, penuh dengan kegembiraan (Bait ke-8)

D.  Referensi
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: PT. Pustaka Widyastama.
Fannanie, Zainuddin. 2001. Telaah Sastra. Cetakan Kedua. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Nurgiantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
————-. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
————————————. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Taufiq, Akhmad, Darah Palestina. Terbaca dalam http://muntijo.wordpress.com/

Qabbani, Nizar, Al-Quds. Terbaca dalam www.nizarq.com

1 komentar:

  1. kak saya kemaren membaca tulisan kakak tentang puisi al qudsu di link ini http://azizwahied.blogspot.co.id/2014/12/keadaan-palestina-dalam-puisi-al-quds.html. kemudian saya ingin menjadikan tulisan kakak di tulisan saya sebagai penelitian terdahulu. kalau boleh tahu penelitihan dilakukan tahun berapa kak?

    BalasHapus