Jumat, 19 Desember 2014

ANALISIS SYI’IR UMRUL QAIS

ANALISIS SYI’IR UMRUL QAIS
Oleh : Abdul Aziz (1211502001)

a.      Biografi Umrul Qais
Beliau merupakan raja yang ‘sesat’, nama lengkapnya ialah abu al-Harits Hunduj ibn Hajar al-Kindiy. Penyair Yaman dan bapak penyair jahiliyyah[1]Nasab penyair ini termasuk ke dalam kalangan terhormat, ia anak seorang raja Yaman yang bernama Hujur al-Kindi, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Rabiah saudara Kulaib Taghlibiyyah, yaitu seorang
perwira Arab yang amat terkenal dalam peperangan al-Basus dan saudara dari Muhalhil, yang juga seorang penyair[2].
Sejak kecil penyair ini dibesarkan di Nejed, di tengah-tengah Bani Asad, rakyat ayahnya. Ia hidup di dalam kalangan keluarga bangsawan yang gemar berfoya-foya. Kehidupannya sebagai anak seorang raja berpengaruh sekali dalam pembentukan kepribadiannya. Ia memiliki kebiasaan bermain cinta, bermabuk-mabukkan, dan melupakan segala kewajiban sebagai anak raja yang seharusnya pandai mawas diri dan berlatih untuk memimpin masyarakat. Ia kerapkali dimarahi oleh ayahnya karena perangainya yang buruk, bahkan akhirnya dia diusir dari istana[3].
b.Karya Syi’ir Umrul Qais
Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa diantara puisi-puisi al-Mu'allaqat, puisi Umru' al-Qais merupakan puisi yang paling terkenal dan menduduki posisi penting dalam khazanah kesusastraan Arab Jahiliyyah. Mu'allaqat Umru' al-Qais merupakan peninggalan yang paling monumental yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan kesusastraan Arab pada masa-masa selanjutnya. Puisi-puisinya seringkali dipakai sebagai referensi dalam kajian ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharf, maupun balaghah.
Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan Istikofus Sohby. Selain itu, ia juga dianggap sebagai penyair pertama dalam mensifati kecantikan seorang wanita dengan mengumpamakannya dengan seekor kijang yang panjang lehernya yang dijadikan tanda untuk seorang wanita yang cantik.
Orang yang mendalami puisi karya Umrul Qais dengan mendalam maka dia akan mengerti bahwa keindahan syairnya terletak pada caranya yang halus dalam syair ghazal-nya. Apalagi isti’arah dan perumpamaanya yang begitu indah. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah orang yang pertama menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Hanya saja terkadang sayirnya tidak luput dari perumpamaan yang cabul terutama ketika membicarakan perempuan.
                 Adapun salah satu karya syairnya yang terkenal ialah sebagai berikut :
وليل كموج البحر أرخى سدوله #     علي بأنوع الهموم ليبتل
فقلت له لما تمطى بصلبه   #   واردف اعجازا وناء بكلكل
اﻻايهاالليل الطويل اﻻ انجلى      #  بصبح وما اﻻء صباح منك بأمثل
فيا لك من ليل كان نجومه                     #                 بكل مغار الفتل شدت بيذ بل

Artinya : Malam bagaikan gelombang samudra yang menyelimutkan tirainya padaku, dengan kesedihan untuk membencanaiku, aku berkata padanya kala ia menggeliat merentang tulang punggungnya dan siap melompat menerkam mangsanya, wahai malam panjang kenapa engkau tidak segera beranjak pergi yang digantikan pagi yang tiada pagi seindah kamu, Oh… malam yang gemintangnya, bagaikan terjerat ikatan yang kuat.”




c.          Analisis Syi’ir  Umrul Qais
Tentang analisis syi’ir diatas, ada beberapa spesifikasi analisis syi’ir tersebut.
-         Jenis Syi’ir
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa jenis syi’ir Arab itu memiliki tiga jenis, yakni[4] :
Puisi tradisional (asy-syi’r al-multazim)
           Puisi tradisional (asy-syi’r al-multazim) adalah puisi yang harus mengikuti aturan-aturan yang dituangkan dalam Ilmu Arud dan Qawafi, harus mengikuti salah satu bahar, dan mengikuti aturan qafiyah tertentu sehingga antara bait yang satu dengan bait yang lain terdapat persamaan, baik dalam bahar maupun dalam taf’iliah atau satuan iramanya.
Puisi setengah bebas (asy-siyi’r al-mursal)
           Puisi setengah bebas (asy-syi’r al-mursal) adalah puisi yang antara qafiyah yang satu dalam satu baris atau satr dengan yang lainnya dalam baris berikutnya berbeda.
Puisi bebas (asy-syi’r al-hurr)
           Puisi bebas (asy-syi’r al-hurr) adalah puisi yang tidak terikat prosodi/matra gaya lama atau arud dan qafiyah, yang secara bentuk terkadang mendekati gaya prosa sastra dan susunan barisnya tidak dalam bentuk qasidah (dua baris sejajar), tetapi tersusun kebawah.
Adapun syi’ir karangan Umrul Qais di atas merupakan syi’ir al-Multazim, karena syi’ir tersebut mengikuti gaya prosodi yang tertuang dalam ilmu ‘arudl dan qawafi, yang mana syi’ir di atas mengikuti salah satu bahr yang akan dijelaskan selanjutnya, dan antara bait yang pertama dengan bait yang lainnya memiliki persamaan. Dan memang pada dasarnya corak dari syi’ir jahiliy ialah terikat dengan wazan dan qafiyah.
-         Tema
           Dalam sya’ir Arab memeliki tujuh tema yakni ;[5] Madh (pujian), ghazal (rayuan), hija (ejekan), ar-ritsa (bela sungkawa), al-i’tidzaar (berdalih), al-washaf (mensifati), al-fakhar (bangga). Adapun tema dalam syi’ir ini ialah washf, yakni  menggambarkan sesuatu kejadian ataupun segala hal yang menarik, seperti menggambarkan jalannya peperangan, keindahan alam dan sebagainya.
-         Aghradh (Tujuan)
           Pada dasarnya penyair ini ingin mengutarakan akan nasibnya yang malang. Dimana ketika malam dating hatinya bertambah resah. Penyair menggambarkan posisinya yang sedang dilanda persoalan kehidupan dengan gambaran malam yang gelap gulita. Bahkan, ia menyerupakan dengan gelombang samudera, ia ingin pembaca tahu bahwa dia mempunyai persoalan yang amat pelik.

Syair diatas merupakan bukti kepandaian penyair dalam me-washf-kan suatu keadaan. Seakan-akan peristiwa atau keadaan tersbut benar terjadi adanya.
           Kekhasan dalam keindahan syair ini ialah penyair tidak secara langsung menjelaskan keresahan yang dialaminya. Bahkan ia membrikan perumpamaan terlebih dahulu yang dekat dengan pengertian aslinya.
-         al-Arudlh wa al-Qowafiiy
ولَـيْـلٍ كَـمَـوْجِ الـبَـحْـرِ أَرْخَـى سُـدُوْلَــهُ*           عَــلَـيَّ بِـأَنْـوَاعِ الـهُــمُــوْمِ لِــيَــبْــتَــلِـي
وليلن   كموجلبح   ر أرخا      سدولهو  *            عليي   بأنواعل   هموم        ليبتلى
o/o// o/o/o//    o/o//        o//o//              /o//    o/o/o//  /o//        o//o//
فعولن  مفاعيلن   فعولن        مفاعلن                 فعول    مفاعيلن  فعول        مفاعلن
هذا البيت بحر الطويل عروضه مقبوضة لأنه حذف الخامس الساكن اصله مفاعيلن صارت مفاعلن و ضربه كذلك مقبوضة و حشوه في الشطر الثاني مقبوضة.

فَــقُــلْــتُ لَـهُ لَـمَّـا تَـمَــطَّــى بِـصُــلْــبِـهِ *   وأَرْدَفَ أَعْــجَــازاً وَنَـــاءَ بِــكَــلْـــكَــلِ
فقلت    لهو لمما   تمططا    بصلبهى       وارد  فأعجازن   وناء       بكلكلى
/o//     o/o/o//    o/o//           o//o// /o//   o/o/o//   /o//        o//o//
فعول     مفاعيلن   فعولن        مفاعلن         فعول  مفاعيلن    فعول    مفاعلن
هذا البيت بحر الطويل عروضه مقبوضة لأنه حذف الخامس الساكن اصله مفاعيلن صارت مفاعلن و ضربه كذلك مقبوضة و حشوه في الشطر الاول و الثاني مقبوضة.




ألاَ أَيُّـهَـا الـلَّـيْـلُ الـطَّـوِيْــلُ ألاَ انْـجَـلِــي   *   بِـصُـبْـحٍ وَمَــا الإصْـبَـاحُ مـنِـكَ بِأَمْثَلِ
أﻻأي   يهلليلط    طويل      ألنجلى            بصبحن    وملءصبا    حمنك  بأمثلى
o/o//   o/o/o//   /o//     o//o//              o/o//       o/o/o//      /o//  o//o//
فعولن     مفاعيلن   فعول     مفاعلن            فعولن       مفاعيلن    فعول   مفاعلن
هذا البيت بحر الطويل عروضه مقبوضة لأنه حذف الخامس الساكن اصله مفاعيلن صارت مفاعلن و ضربه كذلك مقبوضة و حشوه في الشطر الاول و الثاني مقبوضة.
فَــيَــا لَــكَ مَــنْ لَــيْــلٍ كَــأنَّ نُــجُــومَــهُ  *   بــكــل مُــغــار الـفــتـل شُــدّت بـيـذبل
فيا ل  كمن ليلن    كأنن       نجومهو           بكلل   مغارلفت    لشددت    بيذ بلى
/o//   o/o/o//     /o//     o//o//       /o//    o/o/o//      o/o//  o//o//
فعول   مفاعيلن    فعول     مفاعلن      فعول     مفاعيلن    فعولن     مفاعلن
هذا البيت بحر الطويل عروضه مقبوضة لأنه حذف الخامس الساكن اصله مفاعيلن صارت مفاعلن و ضربه كذلك مقبوضة و حشوه في الشطر الاول و الثاني مقبوضة.



DAFTAR PUSTAKA
al-Iskindy, Ahmad & Mushtofa ‘Annaniy, 1916. al-Wasith fi al-Adab al-‘Arobiy wa Taarikhuhu. Mesir : Darul Ma’arif
Al-Mundar, Yunus Ali H & Bey Arifin, 1983. Sejarah Kesusastraan Arab. Surabaya: PT Bina Ilmu
Hamid, Mas’an,1995. Ilmu Arudl dan Qawafi, Surabaya: Al-ikhlas
.




[1] Ahmad al-Iskindy & Mushtofa ‘Annaniy, al-Wasith fi al-Adab al-‘Arobiy wa Taarikhuhu. (Mesir : Darul Ma’arif, 1916) h. 61.
[2] Yunus Ali Al-Mundar H Bey Arifin, Sejarah Kesusastraan, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983), h. 44-50.
[3] Ibid.
[4] Mas’ah Hamid, Ilmu Arudl dan Qawaf, (Surabaya: Al-ikhlas,1995), hlm 55.
[5] Yunus Ali Al-Mundar H Bey Arifin, op. cit., h. 

0 komentar:

Poskan Komentar