Senin, 15 Desember 2014

HERMENEUTIKA GADAMER

HERMENEUTIKA GADAMER
Oleh : Abdul Aziz 
a.    Latar Belakang
Eksistensi hermeneutika dalam belantara kehidupan intelektual masyarakat belum terlihat signifikasinya, padahal urgensi hermeneutika sudah dipropogandakan oleh para filosof sejak sekian lama. Hal ini difahami karena menurut Mulyono kita cenderung beranggapan bahwa
hermeneutika diartikan sebagai “ilmu tafsir”, sementara sifat kritisnya terus diabaikan.[1]
Pada dasarnya kita sudah akrab dengan hermeneutika, diartikan sebagai sebuah kata kerja dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menerjemahkan atau menafsirkan.[2] Kita juga tahu bahwa kata tersebut merujuk pada dewa Hermes seorang dewa dalam mitologi Yunani di Gunung Olympus yang memiliki tugas membawa berita kepada manusia dan juga nasib yang akan dialami manusia. Hermes menyampaikan pesan dari dunia yang sangat berbeda sedemikian rupa sehingga dapat difahami oleh manusia dengan bahasanya. Oleh karena itu, tugas hermes tidak hanya menyampaikan pesan saja, melainkan terlebih dahulu ia harus memahami, menerjemahkan dan menerangkannya kepada manusia, menurut Mulyono tanpa disadari bahwa definisi tersebut digagas oleh Heideggerr.[3]
Proses memahami, menerjemahkan dan menerangkan sebuah pesan dalam bahasa itulah yang menjadi rahim yang selanjutnya melahirkan hermeneutika. Dalam proses tersebut hermeneutika memiliki berbagai elemen yang sangat kompleks, seperti praanggapan, dialektika, bahasa, dan realitas.[4] Dalam makalah ini berusaha mengupas pemikiran hermeneutika yang memfokuskan pada seorang tokoh, yaitu Hans-Georg Gadamer.

b.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini berasal dari beberapa pertanyaan berikut :
1.        Bagaimana riwayat hidup Hans-Georg Gadamer?
2.        Bagaimana pemikiran hermeneutika Hans-Georg Gadamer?
c.    Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini ialah:
-          Agar mengetahui riwayat hidup Hans-Georg Gadamer
-          Agar memahami pemikiran hermeneutika Hans-Georg Gadamer



BAB II
PEMBAHASAN

a.      Riwayat Hidup Hans-Georg Gadamer
Beliau lahir di Marburg pada tahun 1900. Ia  belajar filsafat di kota asalnya, ia belajar pada Nikolai Hartmann dan Martin Heidegger dan juga ia pernah belajar pada Bultmann. Pada tahun 1922, ia meraih gelar doktor filsafat, tahun 1929 ia menjadi profesor pada tahun 1937 dan sampai pada akhirnya ia menjadi tenaga pengajar di Heildberg.[5]
Pemikirannya secara umum dipengaruhi dan dilatarbelakangi oleh fenomenologi. Banyak bukunya yang memberikan interpretasi tentang filsof-filsof terdahulu, seperti Herder, Hegel, Goethe, dan Plato. Dari sekian banyak karyanya yang terpenting ialah tentang metode hermeneutika yaitu Wahrheit und Methode. Grundzuge einer philosophiscen Hermeneutik (1960) (Kebenaran dan Metode. Sebuah Hermeneutika Filosofis Menurut Garis Besarnya). Buku inilah yang membawa Gadamer menjadi seorang filsof terkemuka di bidang hermeneutika. Pada tahun 1965, buku diterbitkannya cetakan kedua dengan dibubuhi pendahuluan yang baru dimana beliau menjelaskan maksudnya dan menjawab interfensi-interfensi yang telah dikemukakan, ditambah lagi sebuah lampiran. Dan terbit lagi cetakan ketiga dengan tambahan suatu kata penutup lagi di tahun 1972.[6]
Tradisi filsafat modern yang mengembangkan metode kuantitatif yang terutama dikembangkan oleh kaum postivisme logis pada abad ke-10 memang sangat menguasai berbagai ilmu pengetahuan, bahkan pada disiplin ilmu sosial, budaya, maupun ekonomi. Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan pada abad tersebut Gadamer menawarkan suatu metode hermeneutika yang terutama berkaitan dengan bidang-bidang sosial, budaya, dan humaniora.[7]
b.      Pemikiran Hermeneutikanya
Gadamer meyakini bahwa hermeneutika meupakan penyelidikan proses universal dari tindak pemahaman yang diklaim sebagai hakikat kapasitas manusia sebagai sebuah “ada”, pemikiran ini tidak terlepas dengan pemikiran Heidegger.[8]  Sikap yang paling fundamental dalam keberadaan eksistensi manusia ialah proses “pemahaman” / “mengerti, dengan kata lain “mengerti” itu ialah cara berada manusia itu sendiri. Jadi, eksistensi manusia dipengaruhi dari kualitas pemahaman manusia tersebut. Sehingga perhatian Gadamer tidak hanya memusatkan pada satu tugas filsafat (teori hermeneutis), melainkan semua tugas yang beliau perhatikan dalam setiap tema filsafat dari satu segi tertentu, yaitu hermenutika.[9]
Sebelum munculnya kedua tokoh hermeneutika yang fundamental ini, yaitu Heidegger dan Gadamer diskursus hermeneutika menyatu dengan sains yang bersifat metodologis., dengan tekanan bahwa semua pengetahuan dapat diakui jika memiliki basis empiris. Secara tidak langsung hermeneutika menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan alam postivisme yang biasanya mensyaratkan obyektivisme. Ini menjadikan dilema bagi hermeneutika, dikarenakan hermeneutika ialah ilmu interpretasi tentu tidak terlepas dengan sang penafsir atau pembaca yang memiliki wilayah historis sendiri yang berbeda dengan historis yang ada dalam teks yang akan ditafsirnya.[10]
Tokoh Betti, Scehleimermacher, dan Dhiltey meupakan pengagas aliran hermeneutika obyektivitas ini. Walaupun konteks ke-obyektivitasan dari masing-masing berbeda, seperti Dilthey lebih memfokuskan pada “teks”, sedangkan Schleimermacher lebih pada “pengarang”[11], namun ketiganya secara tidak langsung harus mensyaratkan tampilan hermenutika yang steril dari intervensi historitas penafsir.
Berlahir dari sanalah, Gadamer memunculkan antitesis yang begitu ekstrem dengan hermeneutika filosofisnya, bahwa upaya obyektivitas akan menjadi kesia-siaan belaka bagi siapapun yang akan menafsirkan sebuah teks. Sebab antara pengarang dan penafsir terjalin jurang tradisi yang tidak mungkin akan menyatu serta penafsir tak mungkin kosong dari arus budaya yeng memberikan watak dan pemikiran sendiri sebagai modal hermeunetisnya. Dengan kata lain, menurut Gadamer, hermeneutika yang bisa dihidupkan dengan baik ialah subyektivisme interpretasi yang relevan dengan praandaian-praandaian yang dibangun oleh historisnya di masa kini. Ia menegaskan bahwa justru yang terpenting dalam jurang waktu dan tradisi itu adalah dialektika atau dialog yang produktif antara masa lalu dan masa kini. Dan ini hanya bisa dimasuki melalui bahasa.[12]
Kerangka hermenutika Gadamer secara kategoris berkaitan dengan pokok-pokok khusus, yaitu :[13]
a.      Kebenaran sebagai yang tak tersembunyi
Obesesi merealisasikan kebenaran mengandung pengertian bahwa bagi Gadamer kebenaran dipahami sebagai ketersingkapan, ketersembunyian atau “ada telanjang”. Penyingkapan kebenaran itu harus mengacu pada tradisi, bukan pada metode metode atau teori. Baginya, manusia mampu memahami karena ia mempunyai tradisi dan tradisi ialah bagian dari pengalaman kita, sehingga tidak akan ada pengalaman kita yang berarti tanpa mengacu pada tradisi. Tegasnya, pemahaman terhadap agar menjadi entitas yang tak tersembunyi hanya akan menjadi suatu kemungkinan jika berpijak pada trasisi. Itulah sebabnya gerakan untuk memahami dipandang sebagai cara beradanya Dasein.
b.      Bahasa dan Pemahaman
Dikarenakan bahasa merupakan endapan tradisi sekaligus medium untuk memahami, maka kebenaran yang tak terembunyi itu juga harus dipahami lewat dan dalam bahasa, karena itulah Gadamer menjadikan bahasa sebagai isu sentral hermenutisnya.
Konsepsi Gadamer tentang hakikat bahasa ialah penolakannya terhadap “teori tanda”. Sebab penempatan bahasa sebagai tanda sama dengan mengeliminasinya semata sebagai alat penanda. Menurutnya juga bahasa harus dipahami sebagau yang  menunjuk pada pertumbuhan maknanya, secara historis, dengan kesejarahan makna-maknanya, tata bahasa dan sintaksisnya, sehingga dengan demikian bahasa muncul sebagai bentuk-bentuk variatif logika pengalaman, hakikat, termasuk pengalaman historis/tradisi.
Dengan pemahaman tersebut, Gadamer mendefinisikan bahasa bukan sebagai suatu yang tertuju pada manusia melainkan pada situasi.
Kata-kata untuk merumuskan suatu obyek tidak boleh dilakukan dengan sewenang-wenang atau sembarangan, tetapi selalu mengacu pada obyek yang bersangkutan dan harus ada kesesuaian dengan rangkaian sebelumnya. Peristiwa haremeneutis terjadi bukan karena tindakan dari obyek itu sendiri. Sehingga bahasa yang menjadi media antara kesadaran dan realitas dapat menyingkapkan dunia. Sedemikian fundamentalnya aspek kebahasaan dalam pemikiran harmeneutis. Gadamer sampai-sampai ia mengatakan bahwa hanya melalui bahasa wujud bisa disingkapkan.
Hal paling layak dikemukakan disitu ialah persyaratan praandaian-praandaian bagi seorang yang ingin melakukan suatu pemahaman atau interpretasi sehingga kemudian terbangun dialog/dialektika antara penafsir dengn teks yang ditafsirkannya. Tanpa adanya perandaian terhadap oyek yang didekati ini amatlah mahal bagi seseorang untuk menghasilkan pemahaman. Itulah sebabnya Gadamerpun sejjar dengan Heidegger yang bergerak sirkular dalam aplikasi hermeuntisnya.
-          Praandaian
      Gadamer tidak menampik konstribusi hermenutika romantik ala Schlemermacher maupun Dhiltey meskipun tidak menabung krtik-kirtiknya. Gadamar berbeda secara ekstrim dalam konteks perandaian ini. Dilthey begitu terobsesi untuk memunculkan suatu pemahaman atau interprensi yang betul-betul objektif tehadap otoritas teks dan penciptnya, karena itu dia menegadi perandai-andaian bagi siapapun yang akan mengintrepretasikan sebuah teks.
      Dilthey mengandalkan penafsir sekaligus memiliki bekal ilmu psikologi guna mangetahui latar belakang visi dan misi historis sipengarang yang diakumulasikan dalam teks yang dihasilkannya. Dai situ baginya, hermeneutika akan menghasilkan pencapaiaian-pencapaian makna yang otentis dan asli dengan bingkai historis yang dimiliki sipengarang atau bersifat reproduktif.
      Sedangkan menurut Gadamar yang sangat meyakni bahwa menghilangkan perandaian sama dengan mematikan pemikiran.  Ia tidak mengimpikan hermeneutika bertugas menemukan arti yang asli dari suatu teks, menurutnya interpretasi tidak sama dengan mengambil suatu teks, lalu mencari yang diletakkan didalamnya oleh pengarang. Gadamar menyatakan kemustahilan untuk menjembatani jurang waktu antara kita sebagai penafsir dengan pengarang karena kita niscaya tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari situasi historis dimana kita berada. Setiap zaman harus mengusahakan interpretasinya sendiri. Disinilah letak urgensi perandai-anadaian seorang penafsir yang tentu beranjak dari historisnya ketika akan memasuki sebuah teks yang memiiliki historisnya sendiri.
-          Dialektika/Dialog
      Bekal historis dalam aplikasi hermenutika Gadamar menidcayakan proses dialektis/dialog, proses dialog antara cakrawala teks menyediakan pertanyaan bagi penafsir dan penafsir dengan cakrawala sendiri menimbulkan pertanyaan yang lain lagi peristiwa dialogis dimana pertemuan antara pertanyaan dan jawaban merupakan pemicu bagi munculnya suatu pemahaman. Peristiwa ini bisa disebut pleburan cakrwala-cakrawala.
Hermenutika Gadamar dengan demikian bergerak sacara sirkular, masa lalu dan masa kini dalam suatu pertemuan ontolgis sehingga ada mewahyukan dirinya sendiri. Itulah sebabnya, Gadamar tidak pernah melegitimasi suatu penafsiran sebagai yang benar dalam dirinya sendiri.
      Dalam skema yang lebih simpel hermeneutika filosofi Gadamar bisa kemukakan sbb;
Teks
Praandaian
Realita Historis
Reproduksi
Subyektivas
c.       Hubungan antara kebenaran dan Metode
           Pencapaian kebenaran sebagai produksi operasi hermeunetis terhadap suatu teks harus, melampaui metode-metode. Gadamar memang tidak menafikan sekali kedudukan metode, namun beliau menandaskan bahwa kebenaran bukanlah produk metode. Metode tidak secara mutlak merupakan wahana pemahaman yang menghasilkan kebenaran. Kebenaran justru akan dicapai jika batasan-batasan metodologis dilampaui.




BAB III
PENUTUP
a.      Kesimpulan
Dari pemaparan tadi menjadi jelas sistem relasi antara ketiga elemen yang  merangkai pemikiran hermeneutika Gadamar. Gerakan untuk memahami ada yang tidak tersembunyi berpijak pada tradisi. Bahasa sebagai endapan tradisi sekaligus medium untuk memahami sehingga ada yang tak tersembunyi itu difahami lewat dan dalam bahasa pula. Akhirnya kebenran itu melalui ada-nya sendiri. Sesuai dengan proses dialektik dan linguistik yang melampaui batas-batas metodologis yang diaplikasikan oleh penafsir teks.
Secara Substantif pemikiran hermeneutika filosofinya Gadamar berakar dari tiga poin, yaitu; peleburan bahasa, pengalaman kultural dan cakrawala historis dengan kesadaran subjektif. Gadamar sangat meyakini bahwa ontologi dapat ditelanjangi menjadi wujud yang merealitas dihadapan manusia dengan eksplorasi bahasa yang sekuas-luasnya.





[1] Edi Mulyono, dkk. Belajar Hermeneutika ; Dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies, (Yogyakarta : IRCiSoD, 2012) . Hlm. 141
[2] Syukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab ; Klasik dan Modern, (Jakarta : Rajawali Pres, 2009). Hlm.  221
[3] Edi Mulyono, dkk. Op. Cit., Hlm. 142
[4] Ibid.
[5] Kaelan, Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika, (Yogyakarta : Paradigma, 2009). Hlm. 283
[6]  Edi Mulyono, dkk. Op. Cit., Hlm. 143
[7] Kaelan, Op. Cit. Hlm. 284
[8]  Edi Mulyono, dkk. Op. Cit., Hlm. 144, Kaelan, Loc. Cit,
[9] K Barten, Filsafat Barat, (Jakarta : Gramedoa, 1990), hlm. 224
[10]  Edi Mulyono, dkk. Op. Cit., Hlm. 145
[11] Syukron Kamil, Op. Cit., hlm. 223,   Edi Mulyono, dkk. Loc., cit.
[12]  Edi Mulyono, dkk. Op. Cit., 146
[13] Ibid., hlm. 147-155 

0 komentar:

Poskan Komentar