Jumat, 05 April 2013

PENGARUH MATARAM TERHADAP SUNDA (Kebudayaan, Kesusastraan dan Kesenian)


Oleh :
Abdul Aziz, Abdul Latif, Barizati Amalia, Lisna Trisnawati

1.      Pendahuluan

Setelah runtuhnya kerajaan Pajajaran pada Abad ke 16[1],  Tatar Sunda kehilangan sentralnya baik itu kebudayaan maupun kekuasaan. Ada beberapa kerajaan yang ada di Tatar Sunda, diantaranya ialah ; Kerajaan Cirebon, Banten, dan Sumedanglarang. Namun, yang menjadi sentral atau pusat kekuasaan Sunda ialah
Sumedanglarang. Hal ini ditandai dengan diserahkannya Kandage Lante[2] Pajajaran maka praktis Kerajaan Sumedanglarang menjadi luas. Saat itu Sumedanglarang dipimpin oleh Geusan Ulun. [3] Hal yang mendasari kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus kekuasaan Tatar Sunda ialah atas dukungan dari beberapa mantan senapati dan pembesar Kerajaan Pajajaran. Adapun wilayah kekuasaan Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.[4]
Setelah Sumedanglarang menguasai tatar Sunda, Kerajaan ini menjadi bawahan Kerajaan Mataram. Hal ini didasari dua alasan; Pertama, mereka sepakat untuk berkoalisi untuk menghadapi Banten dan Belanda serta Cirebon. Kedua, Suryadiwangsa (putra  Geusan Ulun dari Harisbaya) menyerah tanpa perang kepada Mataram terkait peristiwa Madura.[5] Dan Mataram semakin kuat karena penguasa Sumedanglarang setelah Geusan Ulun yaitu Raden Suriadiwangsa pada tahun 1620 datang ke Mataram menemui Sultan Agung untuk menyatakan pengakuan bahwa Sumedang menjadi bawahan Mataram, karena ia takut Mataram akan menyerang Sumedang.[6]
2.      Pengaruh Mataram Terhadap Sunda
Setelah Mataram berkuasa di Tatar Sunda, tentunya Mataram berpengaruh sangat terhadap Sunda baik itu dalam kebudayaan, kesusastraan maupun kesenian. Salah satunya administrasi pemerintahan, yang mana  berubahnya tata Kerajaan menjadi kabupaten yang disebut 'Kabupatian Wedana'. [7]  Dan juga menurut Lubis konsep kekuasaan Jawa masuk ke dalam pemilikan Sunda. Bahkan setelah kekuasaan Mataram berakhir, pengaruh ini masih tampak nyata. Dalam berbagai sumber histografi tradisional banyak disebut konsep pulung atau wahyu sebagai asal kekuasaan.[8]
Selain itu, Mataram berpengaruh pada bahasa. Bahasa tulisan resmi menggunakan bahasa Jawa sedangkan bahasa lisan menggunakan bahasa Sunda. Tidak dapat dipungkiri, pengaruh budaya terhadap bahasa Sunda masih kental mewarnai sampai saat ini, seperti adanya tingkatan penggunaan bahasa. Berbicara tentang bahasa dalam Sunda terdapat Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) bersumber dari bahasa Jawa yang bermula dari imperialisme yang dilakukan Mataram terhadap kerajaan Sunda. Mayoritas para ahli bahasa Sunda memandang bahwa bahasa Sunda yang asli tidak mengenal undak usuk. Tidak sedikit kebudayaan Jawa yang masuk ke dalam budaya Sunda, termasuk dalam hal aksara, bahasa, berikut undak-usuk, tentunya.[9]
Adapun dari segi tulisan, Aksara Cacarakan merupakan aksara Sunda yang diambil dari Jawa sebagai pengaruh Mataram.[10] Dalam bahasa Sunda “cacarakan” berarti meniru-niru aksara Carakan Jawa. Dalam hal aksara Cacarakan persentase hasil kreasi orang Sunda hanya sebesar 10%, yakni berupa pengurangan aksara dan sistem pengaksaraannya sesuai kekhasan lafal/bunyi bahasa Sunda yang jumlahnya sedikit saja.[11]
Setelah diruntuhkannya Pajajaran, kerajaan Hindu-Sunda berakhir oleh Banten pada tahun 1579, muncullah sejarah baru untuk kesusastraan Sunda. Ditandai dengan masuknya Mataram ke Tatar Sunda. Orang-orang Sunda mulai berhenti menulis karya sastra mereka dengan menggunakan bahasa Sunda dan aksara Sunda kuno. Mereka mulai menulis dalam bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Jawa dan aksara Pegon. Secara umum, bahasa Jawa yang dipergunakan untuk menulis karya sastra Jawa-Sunda biasanya yaitu dialek bahasa Jawa khas Cirebon. Salah satu ciri khas dialek ini adalah tidak ada perbedaan antara fonem retrofleks dan dental, mirip dengan bahasa Jawa yang dipergunakan dalam kesusastraan Jawa-Bali pula. Sehingga semua fonem /t./ atau /th/ dan /d./ atau /dh/ dilafazkan dan ditulis sebagai /t/ atau /d/ dental.[12] Kemudian dalam aksara Jawa yang dipergunakan oleh orang Sunda ada sedikit perbedaan ejaan. Aksara swara atau vokal /o/ yang biasanya ditulis dengan menggunakan dua tanda diakritik, taling dan tarung, oleh orang Sunda hanya ditulis dengan tarung saja. Sehingga sebenarnya yang ditulis bukan vokal /o/ namun /a:/ (a panjang). Oleh orang Sunda aksara Jawa-Sunda disebut Cacarakan. Sastra Jawa biasa ditulis dalam bentuk syair atau tembang yang ditulis dalam bentuk prosa. Dari bermacam-macam jenis metrum Jawa, yang dikenal di Sunda hanyalah Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.
Karya sastra Jawa mengalami kebangkitan pada abad XVIII dan XIX. Karya- karya itu di tulis dan diubah oleh para pujangga kerajaan, sebagai akibat situasi masyarakat yang semakin krisis karena kedatangan kompeni belanda yang menggeser pemerintahan kerajaan. Para pujangga kerajaan “menggugah diri” dan berusaha untuk menegakkan kembali nilai-nilai dan norma-norma tradisional dengan cara menulis dan mengubah sastra yang berisi ajaran piwulang dan sebagainya untuk tindakan ‘antisipasi” terhadap gejala-gejala krisis itu.
Kesusastraan jawa mengalami perkembangan akibat peran istana atau kerajaan dalam kancah politik dan ekonomi yang semakin mundur. Hal ini disebabkan oleh hadirnya kompeni Belanda yang semakin lama semakin  menggeser kekuasaan politik kerajaan. Dan kerajaan Jawa kehilangan peran dan bahkan mencapai puncak krisis sehingga kerajaan lebih banyak berperan sebagai pusat kesenian dan kesusastraan dari pada pusat politik yang menentukan.
Selain dalam Bahasa dan Kesusastraan Mataram berpengaruh juga terhadap kesenian. Berikut ini beberapa diantara kesenian Sunda yang terpengaruh oleh Kerajaan Mataram.
1)      Pupuh Sunda[13]
Seni Pupuh Sunda pada abad 17-18 M, mendapat pengaruh dari mataram. Karena Mataram memiliki otoritas politik di daerah Priangan. Pada saat itu seni Pupuh banyak digunakan dikalangan tertentu dalam hal ini kaum elit Sunda, dan juga pidato para kaum menak. Pada zaman kolonial seni Pupuh banyak digunakan sebagai alat surat menyurat, pidato para kaum menak. Seiring zaman para seniman Sunda, Pupuh Sunda berkembang ke beberapa jenis kesenian tradisi Sunda. Misalnya Cianjuran, Ciawian, Gendingkaresmen, dll. Dalam hal ini, bahasa yang lebih terlihat terpengaruh oleh Mataram, namun dari segi musikalitasnya dalam hal ini lagu sangat berbeda dengan tembang di jawa.

2)      Tarawangsa[14]
Tarawangsa merupakan alat musik kayu yang terdiri dari dua bagian, yakni tangkai penampang dawai dan berbetuk kotak. Atau disebut juga alat musik gesek. Menurut versilisan rancakalong (Sumedang) seni tarawangsa telah ada sejak masa Mataram Kuno (abad ke 8 atau 9 M). Kini,  tradisi Tarawangsa masih hidup di beberapa daerah di Jawa Barat, walau langka sekali. Semisal di daerah Rancakalong di Sumedang, Cipatujah di Tasikmalaya.

3)      Tembang[15]
Tembang Sunda sangat popular sekali dalam masyarakat Sunda. Ciri khas dalam iringan tembang Sunda adalah iringan musik kecapi dan suling. Pada awalnya tembang Sunda hidup dalam lingkungan elit saja. Isi ungkapan yang diketengahkan dalam tembang Sunda adalah:
·        Sanjungan terhadap leluhur
·        Keindahan- keindahan alam Priangan, dan
·        Ungkapan percintaan
Tembang sangat erat kaitannya dengan kesusatraan. Satu hal yang paling menonjol adalah Pupuh. Ada beberapa pendapat bahwa kehadiran dan perkembangan tembang banyak tali-temalinya dengan pengaruh Pupuh yang masuk pada zaman Mataram dulu.










DAFTAR PUSTAKA

Bahasa dan Budaya Sunda Pasca Padjajaran. Terbaca dalam http://tuturussangrakean.blogspot.com ,. Diakses pada hari Sabtu, 9 Maret 2013, pkl. 14:34 WIB.
Eksistensi Seni Pupuh di Era Globalisasi. Terbaca dalam http://budsun.blogspot.com//2010/04/eksistensi-seni-pupuh-di-era-globalisasi.html. Diakses pada hari Rabu 13 Maret 2013. Pkl 13:30 WIB
Iskandar, Yoseph . 1997. Sejarah Jawa Barat, cet. Ke-2. Bandung : Geger Sunten.
Karawitan . Terbaca dalam. http://id.wikipedia.org/wiki/.  Diakses pada hari Kamis, 13 Maret 2013. Pkl. 11:47 WIB.

Kebudayaan Sunda. Terbaca dalam http://sastragudangilmu.blogspot.com/2012/11/kebudayaan-sunda.html.  Diakses pada hari Ahad,
Muhsin Z., Mumuh. 2008. Sumedang Pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram : Makalah.

S. Ekadjati, Edi. 2004.Kebangkitan Kembali Orang Sunda, Bandung : Kiblat Buku Utama.
Sastra Jawa Sunda. Terbaca dalam http://id.wikipedia.org/wiki.  Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013, pkl. 11:45 WIB.
Sejarah Undak Usuk Bahasa Sunda. Terbaca dalam http://angade.my.id.  Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013. Pkl. 11:26.
Sunda Pasca Runtuhnya Pajajaran. Terbaca dalam http://kalakaygupay.blogspot.com/2011/03/sunda-pasca-runtuhnya-pajajaran.html. Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013, pkl. 13:35.
Tarawangsa. Terbaca dalam http://wacananusantara.org/. Diakses pada hari Rabu, 13 Maret 2013. Pkl. 14.02 WIB.
Tim Unicode Aksara Sunda. 2008. Direktori Aksara Sunda untuk Unicode. Bandung: Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Barat


[1] Menurut Mumuh Muhsin Z., terjadi sekitar awal abad ke 17. Lihat Mumuh Muhsin Z., Sumedang Pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram : Makalah. 2008. Hlm. 1.
[2] Simbol kekuasaan Raja Pajajaran.
[3] Sunda Pasca Runtuhnya Pajajaran. Terbaca dalam http://kalakaygupay.blogspot.com/2011/03/sunda-pasca-runtuhnya-pajajaran.html. Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013, pkl. 13:35.
[4] Yoseph Iskandar, Sejarah Jawa Barat, (Bandung : Geger Sunten, 1997). Hlm. 296-297.
[5] Bahasa dan Budaya Sunda Pasca Padjajaran. Terbaca dalam http://tuturussangrakean.blogspot.com ,. Diakses pada hari Sabtu, 9 Maret 2013, pkl. 14:34 WIB.
[6] Mumuh Muhsin Z., Op. Cit., hlm. 3.
[7] Bahasa dan Budaya Sunda Pasca Padjajaran.
[8] Kebudayaan Sunda. Terbaca dalam http://sastragudangilmu.blogspot.com/2012/11/kebudayaan-sunda.html.  Diakses pada hari Ahad,
[9]Sejarah Undak Usuk Bahasa Sunda. Terbaca dalam http://angade.my.id.  Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013. Pkl. 11:26.
[10] Edi S. Ekadjati, Kebangkitan Kembali Orang Sunda, (Bandung : Kiblat Buku Utama, 2004), hlm. 26.
[11] Tim Unicode Aksara Sunda. Direktori Aksara Sunda untuk Unicode. (Bandung: Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Barat, 2008)

[12] Sastra Jawa Sunda. Terbaca dalam http://id.wikipedia.org/wiki.  Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013, pkl. 11:45 WIB.
[13] Eksistensi Seni Pupuh di Era Globalisasi. Terbaca dalam http://budsun.blogspot.com//2010/04/eksistensi-seni-pupuh-di-era-globalisasi.html. Diakses pada hari Rabu 13 Maret 2013. Pkl 13:30 WIB
[14] Tarawangsa. Terbaca dalam http://wacananusantara.org/. Diakses pada hari Rabu, 13 Maret 2013. Pkl. 14.02 WIB.
[15] Karawitan . Terbaca dalam. http://id.wikipedia.org/wiki/.  Diakses pada hari Kamis, 13 Maret 2013. Pkl. 11:47 WIB.

0 komentar:

Poskan Komentar