Jumat, 05 April 2013

Fonetik dan Sifat Bunyi Bahasa Arab


a.    Pendahuluan
Sifat menurut bahasa adalah suatu keadaan yang  menetap pada sesuatu yang lain.. Menurut istilah  adalah keadaan yang baru datang  yang berlaku bagi suatu huruf yang dibaca tepat keluar dari makhrajnya.[1]
Sifat huruf adalah ciri yang menjelaskan perihal suatu huruf. Melalui sifatnya, seseorang itu akan mampu membedakan suatu huruf  itu dengan  keadaan  sebutannya  seperti
tertahan, berdesing, melantun dan sebagainya.
b.    Fonetik.
Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak, kajian fonetik juga meberikan tumpuan kepada “Fon” atau bunyi-bunyi bahasa dan bagai mana bunyi-bunyi tersebut di hasilkan dan di dengar.[2]
Sebagai mana yang telah di tulis oleh Abdul Chaer dalam buku Linguistik Umum bahwasannya Fonetik itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
-        Fonetik Fisiologis
Fonetik ini menjelaskan  bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa .
-        Fonetik Akustik
Fonetik ini juga mempelajari tentang bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.
-        Fonetik Auditoris
Fonetik Auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga.
Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik fisiologis, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan oleh manusia.[3]
1.        Klasifikasi Bunyi.
Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan.
-          Bunyi Vokal
Bunyi ini dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit, pita suara yang terbuka sedikit ini menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang di pompakan dari paru-paru. Selanjutnya arus udara itu keluar melalui rongga mulut tanpa mendapat hambatan apa-apa, kecuali bentuk rongga mulut yang terbentuk tertentu sesuai dengan jenis vokal yang dihasilkan.
-          Bunyi Konsonan
Bunyi konsonan ini terjadi, setelah arus udara melalui pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.
            Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah; arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa: sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu mash mendapat hambatan atau gangguan.[4]
b.a       Klasifikasi Vokal
Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal, horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, tengah, rendah. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, pusat, belakang.[5]
b.b       Diftong
Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya, namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam label.
Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi yang ke dua; sebaliknya disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari dari posisi yang kedua.[6]
b.c       Klasifikasi Konsonan
Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan atau tiga kiretaria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan tak bersuara, bunyi bersuara apabila pita suara hanya terbuka sedikit.[7]
Tempat artikulasi tidak lain dari pada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu, berdasarkan tempat tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain, konsonan:
-        Bilabial
-        Labiodental
-        Laminoalveolar
-        Dorsovelar
Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana ganguan atau hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu dapatlah kita berdasarkan adanya konsonan:
-        Hambat
-        Geseran/frikatif
-        Paduan
-        Sengauan/nasal
-        Getaran/trill
-        Sampingan/lateral
-        Hampiran/aproksiman

c.    Sifat-sifat Bunyi Bahasa Arab
Ada beberapa versi tentang bahasan sifat-sifat bunyi dalam bahasa Arab, seperti hams, jahr, ithbaq, isti’la’ dsb. Menurut Imam Sibaweih pada awalnya, dalam sifat bunyi bahasa Arab itu tidak ada sifat-sifat yang memiliki lawan dan yang tidak memiliki lawan, berbeda dengan pendapat Ibnu Janiy, menurutnya terdapat perbedaan antara sifat yang memilki lawan dan sebaliknya, sehingga terdapat pembagian antara jahr dan  hams, syiddah dan rochwah, ithbaq dan infitah, isti’la’ dan inhifadl, dsb.[8]
Menurut al-Barkawi menyatakan ada empat belas, al-Sakhâwi menyatakan ada enam belas, Al-Jazari dan al-Mur’isyi menyatakan bahwa sifat huruf ada tujuh belas, menurut Nashr al-Juraisiy kebanyakan para ulama sepakat bahwa sifat bunyi bahasa Arab itu ada tujuh belas.[9] Sedangkan sekurang-kurangnya ada 13 sifat. Dan digolongkan menjadi enam golongan.[10]
1.        Jahr dan Hams
     Jahr : yaitu kuatnya tekanan huruf pada tempat (Makhrojnya), sehingga tidak mungkin bersama-sama, huruf yang demikian sifatnya ialah huruf-huruf abjad Arab yang sembilan belas, namun menurut Ibrahim Anis huruf-hurufnya ialah : ب, م, ج, د,ذ, ر, ز, ض,ظ, ع,غ, ل,ن, و, dan ي.[11]
Hams : yaitu tidak kuatnya tekanan huruf pada makhroj sehingga bisa dikeluarkan sambil bernafas, adapun hurufnya ada sembilan huruf yaitu tergabung dalam kata سَ كَ تَ فَ حَ ثَّ هُ شَ خْ صٌ ط ق ح dan همزة.[12]
2.        Syiddah, Rochawah dan Tawassuth
Syiddah : yaitu terkurungnya huruf dengan kuat, ketika dimatikan. Huruf-huruf yang demikian sifatnya ada tujuh, yakni ب ت د ط ض ك dan ق.
Rochawah : yaitu ketika sesuatu huruf dimatikan, masih bisa berjalan dengan bebas, jadi tidak terkurung, huruf-huruf yang demikian sifatnya adalah huruf-huruf yang tidak termasuk pada golongan syiddah dan tawassuth berikut ini.
Tawassuth : yakni tengah-tengah antara syiddah dan rocahwah, hurufnya ada delapan, yaitu : ل, م, ي, ر, د, ع, serta  الف.
3.        Ithbaq dan infitah
Ithbaq : yaitu terkurungnya huruf (suara) antara lidah dan langit-langit yang tepat diatasnya sebagai akibat mepednya lidah itu atas langit-langit tersbut. Huruf-huruf yang demikian sifantya ada empat yaitu ص, ض, ط, dan  ظ
Infitah : yaitu kebalikan ithbaq, dan huruf-hurufnya yang tidak termasuk dalam ithbaq.

4.    Isti’la dan Inchifadl
Isti’la : yaitu menaik kelangit-langit yang tertinggi. Hurufnya ialah huruf-huruf ithbaq ditambah huruf خ, ع,dan ق.
Inchifadl : disbut juga Ishtiful, yakni kebalikan isti’laa, dan huruf-hurufnya ialah huruf-huruf yang tidak termasuk dalam huruf isti’la.
5.    Dzalaqoh dan Ishmat
Dzalaqoh : yaitu ringannya huruf-huruf ketika diucapkan adapun huruf-huruf ada 6 terkumpul dalam kata-kata مربنفل. Yakni huruf-huruf م ر ب ن ف ل. Sebab ringannya huruftersebut ialah karena tiga huruf diantaranya keluar dari ujung lidah yaitu huruf-huruf نلر dan yang tiga lagi keluar dari bibir yaitu huruf-huruf بف  - م.
Ishmat : secara bahasanya adalah tertegah yaitu dicegah hanya menggunakan hurufnya untuk menyusun kalimat Bahasa Arab yang lebih dari tiga huruf yang menjadi huruf akar pada kalimat. Merupakan kebalikan dari dzalaqah, hurufnya juga selain dari huruf dzalaqoh.
6.        Shafir dan Lojjin
                        Shafir : adalah suara yang menyerupai suara unggas atau hewan karena menyebut hurufnya dengan suara berdesir dan kuat dari antara dua bibir mulut. Hurufnya ada tiga, yaitu sad (ص), Zay (ز), dan sin (س). Suara desiran yang terjadi pada huruf Sād paling kuat dibanding Zay dan berikutnya. Perbedaan sifat safir dengan hams adalah desiran napas yang lebih kuat dibandingkan dengan hams yang sekadar membunyikan hurufnya dengan hembusan nafas yang lebih ringan.
                        Lojjin/Liin :  yakni lunak, dan menjadi sifat huruf mad yang tiga, yakni ي ا dan و.
                        Dari yang telah diuraikan diatas jelas terlihat adanya suatu huruf mempunyai dua sifat bahkan lebih hal ini karena adanya perbedaan pendapat diantara para ahli bahasa.


PENUTUP
-         Sifat menurut bahasa adalah suatu keadaan yang  menetap pada sesuatu yang lain.. Menurut istilah  adalah keadaan yang baru datang  yang berlaku bagi suatu huruf yang dibaca tepat keluar dari makhrajnya. Sedangkan Sifat huruf adalah ciri yang menjelaskan perihal suatu huruf.
-         Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak, kajian fonetik juga meberikan tumpuan kepada “Fon” atau bunyi-bunyi bahasa dan bagai mana bunyi-bunyi tersebut di hasilkan dan di dengar.
-         Fonetik  ada tiga bagian :
1.      Fonetik Fisiologis
2.      Fonetik Akustik
3.      Fonetik Auditoris
-         Sifat-sifat huruf sekurang-kurangnya ada 13 sifat. Dan digolongkan menjadi enam golongan. Yaitu ;
·      Jahr dan Hams
·      Syiddah, Rochawah dan Tawassuth
·      Ithbaq dan infitah
·      Isti’la dan Inchifadl
·      Dzalaqoh dan Ishmat


DAFTAR PUSTAKA

http://abkar178.blogspot.com
tajwid
Anis, Ibrahim.  T.T, Al-Ashwat al-Lughawiyyah, Mesir : Nahdloh Mishr.
ats-Tsu’aly, Abi Manshur.  350 H . Fiqh al-Lughoh wa Sirru al-‘Arobiyyah, T.T : Darul Fikr
Chaer, Abul.  2007. Linguistik Umum,  Jakarta :  Reneka Cipta
Nashr al-Juraisiy, Muhammad Makki. 2009. Nihâyah al-Qaul al-Mufîd fi ‘Ilmi al-Tajwîd, Kairo: Maktabah al-Shafâ
Qadur, Ahmad. 2008. Mabadi’ al-Lisaniyyat. Damaskus : Mazidah Manqohah




[3] Abul Chaer, Linguistik Umum, ( Jakarta :  Reneka Cipta, 2007) hal. 103.
[4] Ibid, hlm. 113.
[5] Ibid, 113.
[6] Ibid, 115.
[7] Ibid, 116.
[8] Ahmad Qadur, Mabadi’ al-Lisaniyyat. (Damaskus : Mazidah Manqohah,2008). Hlm. 123.
[9] Muhammad Makki Nashr al-Juraisiy, Nihâyah al-Qaul al-Mufîd fi ‘Ilmi al-Tajwîd, (Kairo: Maktabah al-Shafâ, 2009) hal.67-68
[10] Abi Manshur ats-Tsu’aly, Fiqh al-Lughoh wa Sirru al-‘Arobiyyah, (T.T : Darul Fikr, 350 H), hlm. 213
[11]Ibrahim Anis, Al-Ashwat al-Lughawiyyah, (Mesir : Nahdloh Mishr, T.T), hlm. 22.
[12] Ahmad Qadur, Op. Cit., hlm. 125.

0 komentar:

Poskan Komentar