Sabtu, 01 Desember 2012

MENULIS DALAM KANCAH PERADABAN ISLAM



MENULIS DALAM KANCAH PERADABAN ISLAM
Oleh : Abdul Aziz*
            Menulis!!!
            Merupakan istilah yang tak asing lagi ditelinga kita, bahkan dalam semua aktifitas yang kita lakukan sering kita jumpai pekerjaan yang satu ini. Apalagi bagi seorang pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dsb. Namun, apa sih esensi dari menulis itu sendiri? Apakah hanya sekedar pekerjaan biasa saja, sama halnya dengan makan, minum, nonton? Atau menulis merupakan pekerjaan yang bisa merubah dunia?

            Saya pernah membaca tema dalam kolom Kampus di Harian Umum Pikiran Rakyat “Rubahlah Dunia dengan Tulisan”, ya memang tulisan merupakan pekerjaan yang tak boleh dianggap remeh, dengan tulisan  manusia bisa beralih dari zaman prasejarah mejadi zaman sejarah. Dengan tulisan pula sejarah masa lalu dapat dipelajari sehingga bisa diperbaiki kedepannya. Hari ini, peradaban menuntut kita sebagai menusia untuk menulis. Sejak berusia muda,  manusia sudah dituntut untuk mengenal huruf, angka, tanda baca yang melengkapi keduanya. Terbukti bangsa Arab yang pada masa Jahiliyyah mereka dikenal sebagai bangsa yang tidak mengenal tuisan, mereka hanya mengandalkan daya hafalan yang sangat kuat. Namun, setelah Islam datang dan tradisi menulis dikenalkan oleh Islam, sehingga Bangsa Arab bisa menguasai peradaban dunia pada waktu itu.
            Menurut Bambang Trim menulis merupakan pekerjaan mengolah sebuah gagasan. Ya, gagasan atau ide merupakan pondasi awal seseorang untuk menulis, ide juga sama halnya dengan mencari inspirasi atau ilham. Dari mana datangnya ide? Ok, ide atau gagasan bisa datang kapan saja dan dimana saja, bisa saja ide datang saat kita melamun, saat kita belajar, saat kita berdesak-desakan di bis. Dan gagsan merupakan sumber yang sangat berharga ketika mulai menulis, nah,, ketika mulai menemukan ide apa yang kita tulis, ikatlah ide tersebut tuangkan dalam secarik kertas maupun dalam ketikan dikomputer. Ada seorang dosen penulis, ia memang editor buku, penerjemah juga penulis. Waktu itu ia berada dalam suasana yang tidak mood, namun ia dituntut oleh penerbit untuk menciptakan karya terbaru, tak ide satupun yang terllintas dalam fikirannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk sekedar jalan-jalan di angkutan kota (angkot), ternyata di dalam angkot tersebut ia menemukan ide. Bisa dikatakan ide itu bagaikan singa yang buas, ketika singa tersebut tidak diikat dan dikurung dalam kandang, maka ia akan lari. Begitu juga ide jika kita tidak ikat dengan tulisan, maka ide itu akan hilang dengan sendirinya. Ada berbagai cara orang memperoleh ide, ia bisa datang secara langsung, dalam istilah kepenulisan itu disebut dengan naluri menuis. Ide juga bisa datang lewat panca indra kita, bisa dengan membaca buku maupun koran, nonton televisi atau film, melihat pemandangan yang indah, mendengarkan siaran radio dan lain sebagainya. Ide menulis juga bisa diperoleh dengan akal kita, yakni dengan mengoptimalkan daya pikir kita, dipicu dengan pertanyaan, mengapa, kenapa harus begitu, atau juga bagaimana terhadap semua kejadian yang kita lihat dan kita alami. Jadi inget omongan Maskun Iskandar “ ide itu ada dimana-mana, sumber ide antara lain bacaan, pengalaman, pendapat, obrolan, pengetahuan, pendengaran dan juga tontonan.
            Oh ya, jadi panjang lebar ke ide-ide sich, tapi tak apeu laah,, terus bagaimana dengan perkembangan menulis dalam islam??
Yepp, betul sekali kita sebagai seorang muslim, seyogyanya harus tahu bagaimana sejarah kepenulisan dalam islam? Bagaiamana kepenulisan al-Qur’an, yang tadinya wahyu dari Jibril disampaikan pada baginda Rasul sampai saat ini kita sangat mudah membacanya??   Well, budaya tulis menulis sudah ada semenjak Islam datang, pastinya kita tahu ayat pertama yang diturunkan oleh  Allah SWT, yakni “Iqro” bacalah. Menurut Wahbah Zuhaili, ia menggambarkan bahwa nilai normatif pada ayat ini, lebih mengajak manusia untuk memahami urgensi membaca dan menulis. Kita tahu bahwa Rasulullah SAW termasuk golongan orang yang umm (tak bisa membaca dan menulis), namun tujuan ayat pertama tersebut bukan menghina atau melecehkan Rasulullah. Tapi, justru Allah membuktikan bahwa manusia itu mempunyai ‘akal’ yang menjadikannya lebih bernilai dibanding makhluk-Nya yang lain. Dalam ayat ini, Tuhan menyebutkan kata iqra’ pada awal surat, kemudian dikaitkan dengan ayat yang lain yaitu, ‘allama bi al-qalam (yang mengajari dengan qalam (menulis). Dalam pandangan beliau (Wahbah), sandingan ini memiliki kekuatan yang sangat  penting bagi manusia, yakni disamping Allah memerintahkan manusia untuk mambaca, juga memerintahkan untuk menulis.
So, kepenulisan sangat berkembang pada masa Rasulullah, bahkan Rasulullah sendiri sering mengajarkan kepada para shahbat tentang pentingnya membaca dan menulis. Ketika ia belum genap satu tahun Hijrah di Yatsrib (sekarang Madinah), beliau menulis sebuah karya tulisan yang sangat dahsyat pengaruhnya. Tahukah apa itu? Ya, Piagam Madina, sungguh luar biasa jika kita baca isi dari piagam beliau. Dalam piagam tersebut terdapat aturan-aturan hubungan atara kaum Muhajirin(Makkah) bersama kaum Anshar (Madinah), begitu juga hubungan antara keduanya dengan kaum Yahudi.
Berlanjut pada tradisi tulis menulis pada masa periode awal para shahabat Rasul,  ada yang tahu Zaid bin Tsabit?  Ya dialah pelopor penulisan. Ketika Umar bin Khattab RA merasa gelisah, karena banyak para penghafal Al-Qur’an yang syahid di peprangan, ia takut Al-Qur’an menghilang beriringan syahidnya para huffadz. Akhirnya dengan kesepakatan Umar bin Khattab dan Abu Bakar Shiddiq, mereka menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan menuis ulang Al-Qur’an untuk dibukukan. Kita bisa baca Al-qur’an dengan mudah karena  beliau mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu.
Disamping itu, kegiatan tulis-menulis para shahabat sebenarnya hanya masih berkutat dengan hadits-hadits nabi saja yang pernah mereka dengar, dan mereka menuliskannya dalam bentuk catatan-catatan pribadi saja. Diantara shahabat-shahabat beliau yang mempunyai catatan pribadi ialah Ali bin Abi Thalib KW. Menurut riwayat al-Bukhari, Abu Dawud dan lain-lain, suatu ketika Ali pernah ditanya, "Apakah anda memiliki ilmu pengetahuan dari Nabi SAW, yang tidak diketahui oleh sahabat lain?" Ali menjawab, "Tidak. Demi Tuhan yang menciptakan jiwa dan membelah biji, aku tidak memiliki pengetahuan khusus dari Nabi SAW, kecuali pemahaman terhadap al-Qur'an yang diberikan oleh Allah kepada seseorang dan kecuali dalam catatan (Shahifah) ini." Dia ditanya lagi, "Apa isi catatan itu?" Ali menjawab, "Penebusan tawanan, seorang Muslim tidak boleh diqisas karena membunuh orang kafir dan diyat 'aqilah."
Tradisi tulis menulis dalam bentuk catatan pribadi tersebut semakin berkembang pada msa tabi’in, baik dari segi kualitasnya maupun segi kuantitasnya, pada generasi ini tidaka saja berkutat pada hadits-hadits Nabi saja, tetapi mereka mulai menjamah obyek-obyek lain dalam ilmu pengetahuan Islam seperti fiqih, sejarah, terutama sirah (sejarah) dan maghazi (sejarah peperangan Nabi SAW). Misalnya Urwah bin Zubair bin Awwam, contoh konkretnya ialah dalam pernyataan beliau yaitu “Kami dulu berpendapat, tidak akan menulis kitab bersama dengan kitab Allah, sehingga aku menghapus semua kitab-kitabku. Demi Allah! Senang sekali rasanya, andaikan kitab-kitabku itu masih ada, tidak aku hapus." Nah,, kitab yang dia tulis yaitu tentang kitab-kitab fiqih.
Secara historis, corak tuisan para ulama masa tabi’in pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan tulisan pada masa shahabat yang isinya merupakan catatan pribadi mereka namun lebih melebar ke bidang ilmu fiqih, sirah dan maghazi, tentu saja dalam bidang hadits. Hasil karya tulisan mereka hanyalah sebagai dokumen pribad saja, tidak dikonsumsi oleh khalayak. Tradisi tulis menulis ilmiyyah dalam Islam menemukan jati dirinya yang bersifat metodologis dan disebar pada khalayak umum itu terjadi pada periode ketiga Islam, yakni masa tabi’ tabi’in, yakni generasi para ulama seperti Imam Abu Hanifah. Adapun para ulama yang menulis secara ilmiah pada periode ini sangatlah banyak, misalnya saja al-Imam Abu al-Walid Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij al-Makki, ia meupakan pakar hukum dan juga pengajar di Masjidil Haram, ia banyak menulis karya-karya ilmiah di Makkah. Pada saat itu juga tampil, para ulama yang menulis berbagai disiplin ilmu, baik itu di bidang hadits, fiqih dan lain sebagainya, misakan saja Malik bin Anas, ia merupakan penulis kitab al-Muwaththa’ dan ar-Risalah, Abdurrazaq bin Humam bin Nafi’ al-Shan’ani al-Himyari, ia juga menulis al-Sunan dalam bidang Fiqih, Tafsir Al-Qur’an al-Karim dan lain sebagainya.
Wahh, hebat ya! Lalu bagaimana dengan keadaan kita sekarang? Perkembangan pengetahuan muslim sekarang, khususnya di Indonesia belum mampu mecapai titik optimal. Padahal jika kita lihat kegigihan para ulama terdahulu dalam menghasilkan sebuah karya sangatlah susah, dengan kondisi tak serba ada seperti zaman sekarang mereka mampu menghasilkan karya yang banyak dan juga tentunya bermanfaat untuk khalayak.
Nah,, kawan! Seharusnya jika kita mengaca pada para shahabat dan para ulama, sudah saatnya literasi Islam kembali bangkit memberikan nilai positif bagi dunia literature yang ada, kita jangan hanya memakan hasil karya orang lain saja.
Ingat! Menulis tidak mengenal profesi. Apapun profesi seseorang, dia memiliki nilai plus jika ia memiliki keahlian menulis. Seperti halnya Darwin yang merupakan seorang naturalis. Walaupun banyak naturals di dunia, tetapi Darwin mampu lebih unggul karena ia mampu menuangkan ide pemikirannya ke dalam tulisan. Oleh karena itu, mari kita bangun peradaban dengan tulisan!.


* Mahasiswa S1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Fakultas  Adab dan Humaniora Tahun 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar