Minggu, 02 Desember 2012

Akhirnya Aku Menemukanmu



AKHIRNYA KU MENEMUKANMU
Persembahan buat Forum Lingkar Pena (FLP)
Oleh : Abdul Aziz
            “Aku memang awam dalam hal tulis menulis”.
Itulah fikiran yang terlintas ketika aku merenung sejenak di angkot jurusan Cileunyi, sesaat setelah aku menghadiri acara yang sangat menarik dan menyesal jika hari itu aku tak menghadirinya. Bedah Novel “Sang Pemusar Gelombang” karya kang Irfan Hidayatullah. Di iringi derasnya hujan turun seakan memuntahkan semua air yang ada di langit ke hamparan bumi ini, angkot terus berjalan menyusuri jalan Bandung-Sumedang.

Dilamunanku seakan terlintas masa-masa 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih duduk di kelas 8 SMP, surau berlantai tiga merupakan singgasanaku waktu itu. Belajar, ngaji, belajar, ngaji adalah kesibukanku setiap hari. Pagi aku sekolah SMP, siang dan malam aku ngaji di Ma’had tercinta. Disana aku mengerti bahwa kehidupan yang  hakiki seperti itulah, penuh dengan tantangan. waktu itu aku belum mengenal dunia tulis menulis, dalam artian aku tak bisa yang namanya buat puisi, cerpen, anekdot dll. Jujur ku katakan aku orangnya susah berimajinasi, aku lebih suka hidup lurus-lurus saja, nyantai, dan jalani apa yang ada. Nahh, oleh karena itu, aku tak suka bahkan enggan melakukan hal-hal yang baru termasuk tulis menulis. Hingga akhirnya, aku dipertemukan dengan bulletin Ma’had. Awalnya aku acuh,, tapi setelah bebrapa kali melirik bulletin itu, aku mulai tertarik membacanya, hanya sekedar membaca.
Ternyata oh ternyata, bulletim tersebut telah vakum hampir dua tahun lebih. Aku hanya membaca bulletin-bulletin yang lama setiap ada kesempatan membaca di Maktabah (perpustakaan) Ma’had. Lumayan menarik tulisan-tulisan yang dimuat di bulletin tersebut. Pada pertengahan tahun aku duduk di kelas 8 SMP, Mudabbir (pengurus ma’had) mengumpulkan beberapa santri termasuk aku, dan ternyata aku beserta beberapa teman lainnya dikumpulkan untuk memulai lagi menerbitkan bulletin yang telah vakum tersebut. namun, bukan dalam bentuk bulletin maupun majalah tetapi berbentuk mading.
Dari hasil tersebut aku ditugaskan untuk bertanggung jawab menjadi kordinator di kolom AnekDOt (kolom yang berisi kisah-kisah lucu, dalam bentuk teks dialog maupun deskriptif). Nah, sebagai launching pertama Mading tersebut  para kru mading sendirilah yang mengisi setiap kolomnya, dan aku ditugaskan untuk mengisi kolom AnekDOt itu.
Jujur dalam hati, aku kurang sregg dengan posisi tersebut, karena seperti tadi aku tuhh orangnya sangat lemah dalam berimajinasi apalagi utnuk menulis sepeti itu, nulis puisi aja susahnya setengah mati. Namun, aku terinspirasi lewat bacaan-bacaan yang ada dalam buletin, akhirnya saya mencoba untuk mulai menulis anekdot. Saya masih teringat tulisan anekdot saya yang pertama.
Di suatu hari ada teman-temanku sedang berjaga-jaga ronda malam. Iseng-iseng aku bertanya pada mereka.
Fajar  :“heyy misalnya ni yaa, kalian lagi jalan sendirian di jalan yang sepi tak ada orang satupun yang lewat, waktu itu tengah malam, eeh ternyata di belakang kita ada yang anjlok-anjlokan,, kita menoleh ke belekang dan terrnyata itu POCONG!! Apa yang kalian lakukan??”
Indra : “ kayaknya saya pingsan dahh, takut banget tuh saya mah ama yang namanya pocong teh..”
Udin :” heu,, udin mah mau timpuk tuhh pocong,,”
Samsul  : “ kayaknya saya ngompol tuhhh. Trus kamu apa yang dilakukan??”
Fajar : “ saaya akan keluarkan jurus seribu kakii,,,”
Samsul : “apa tuhh?”
Fajar : “ lariiii,,, haha”.
Teeeetttt, aku tersadar dari lamunanku, ternyata angkot yang aku tumpangi mau di tabrak oleh mobil Jazz warna putih, ia marah-marah pada tukang angkot. Angkot yang aku aku tumpangi kebut-kebutan mengejar pengendara tadi. Bersambung…..

0 komentar:

Poskan Komentar