Minggu, 03 November 2013

SHIGHAT DAN MA’ANI DALAM AMR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ilmu ma’ani merupakan suatu kajian ilmu balaghoh yang membahas mengenai dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat bahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Dimana tujuan ilmu ma’ani ini adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan ynag dikehendaki peutur yang disampaikan kepada lawan tutur. Dan salah satu bahasan dari ilmu ma’ani adalah
Amr yng termasuk pada jajaran khobar insyai.
B.    Rumusan Masalah
1.     Pengertian Amr
2.     Shighat Amr
3.     Ma’na Amr

C.    Tujuan
1.     Melaksanakan program penilaian untuk mata kuliah Ilmu Ma’ani
2.     Mengenal dan memahami salah satu khobar insyai yaitu Amr


BAB II
PEMBAHASAN
a.     Pengertian
Amr adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. [1] Amr merupakan salah satu kalam insya’i,  adapun kalam insyai nya termasuk kalam thalaby.

b.     Shighat Amr
Adapun Shighat Amr itu ada empat, secara rinicinya ialah sebagai berikut[2] :
1.     Fi’il Amr, semua kata kerja yang ber-shighat fi’il amr termasuk kalam insya’ thalabi. Contoh fi’il Amr ialah sebagai berikut ;
و أقيموا الصلاة (النور : 56)[3].
Artinya: “Dirikanlah shalat” (QS. An-Nur : 56). Kata أقيموا fi’il amr dari fi’il madhi أقام يقيم  .
خذالكتاب بقوة
Artinya: “Ambilah kitab itu dengan kuat!”. Kata خذ merupakan fi’il amr dari fi’il madly, يأخذ  أخذ.
شاور سواك إذا نابتك نائبة * يوما وإن كنت من أهل المشورات[4]
Artinya : “Bermusyawarahlah dengan orang lain ketika engkau tertimpa musibah pada suatu waktu sekalipun engkau termasuk ahli musyawarah”.
2.     Fi’il Mudhari’, yang diiringi dengan lam amr. Contohnya ialah sebagai berikut:
لينفق ذو سعة من سعته (الطلاق : 7)
Artinya : “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS. At-Thalaq : 7).
3.     Isim Amr, Kata isim yang bermakna fi’il amr (kata kerja) termasuk shigot yang membentuk kalam insyai thalabi. Contoh:
حي على الصلاة حي على الفلاح
Artinya: “Mari melaksanakan sholat! Mari menuju kebahagiaan!”
Kata حي yang memiliki arti “mari”, dalam kalimat di atas adalah sebuah kata yang berbentuk isim  tetapi mengandung makna amr, sehingga disebut isim fi’il amr.
4.     Mashdar pengganti fi’il, Mashdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti fi’il yang dibuang bisa juga bermakna amr.Contoh:
سعبا فى الخير
Artinya: “Berusahalah pada hal-hal yang baik.”
وبالوالدين إحسانا
Artinya : “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’ :23).



c.      Ma’ani Amr
Dalam konteks tertentu, kalimat perintah ini terkadang menyimpang dari makna asalinya dan menunjukkan makna-makna lain, di antaranya makna doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir dan tahdid.[5]
1.     Makna doa
Ungkapan amr bisa menunjukkan makna doa jika perintah itu berupa permohonan yang datang dari bawah kepada yang di atas. Contohnya permohonan kita kepada Allah agar mengampuni segala dosa dan kesalahan kita:
ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيئاتنا ( ال عمران : ١٩٣)
“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami” (QS. Ali-‘Imran [3]: 193)
2.      Makna Iltimas
Ungkapan amr bisa juga menunjukkan makna iltimas, yaitu perintah itu berasal dari pihak yang sederajat. Contoh, permintaan seseorang kepada teman sejawatnya utuk membawakan secangkir kopi:
يا صاحبي خذ لي كوبا من القهوة
“Sahabatku! Ambillah secangkir kopi untukku.”
3.     Makna Irsyad
Amr juga bisa menunjukkan makna irsyad atau bimbingan jika perintah tersebut, misalnya: berisi pepatah, nasehat, atau cara-cara untuk melaksanakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Misalnya nasehat seorang guru kepada muridnya untuk rajin belajar:
إذا أردتم النجاح فى الامتحان فاجتهدوا فى الدراسة.
“Jika Anda ingin sukses dalam ujian maka rajinlah belajar.”

4.     Makna Tamanny
Selain itu, ungkapan amr pun dapat menunjukkan makna tamanny, yaitu jika perintah ditujukan kepada sesuatu yang tidak berakal. Contohnya, ungkapan orang yang sedang merindukan kekasihnya:
ياعصافير , بلغ سلامي وشوقي إليها !
“Wahai burung-burung pipit, sampaikanlah salam dan rinduku kepadanya.”
5.     Makna Ibahah
Amr pun terkadang menunjukan makna ibahah, yakni kebolehan (kebebasan) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, bukan sebuah kewajiban. Seperti perintah untuk makan dan minum dalam al-Quran:
كلوا واشربوا ولا تسرفوا ( الأعراف : ٣١ )
“Makan dan minumlah dan janganlah berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)
6.     Makna Takhyir
Makna lain dariamr adalah makna takhyir atau pilihan. Biasanya, konteks ini muncul jika ada dua perintah yang diajukan untuk dipilih salah satunya, seperti ungkapan”
عش كريما أو مت شهيدا
“Hidup dalam keadaan mulia atau matilah dalam keadaan syahid.”
7.     Makna Tahdid
Selain makna-makna di atas, amr pun terkadang menunjukkan makna tahdid yaitu perintah yang disertai dengan ancaman. Jika amr diungkapkan dalam konteks ini, maka pada dasarnya menunjukkan “sindiran” atau ketidaksetujuan dari pihak yang member perintah tersebut. Contoh, ungkapan yang ditujukkan kepada orang yang selalu mengikuti hawa nafsuny.a”
اعمل ما شئت فإنك مجزي به
“Lakukan apa yang kamu mau, nanti juga kamu akan dibalas.”
BAB III
PENUTUPAN

a.     Kesimpulan
Kalimat amr merupakan salah satu kalimat khobar insyai. Dimana, kalimat tersebut merupakan berita yang tidak menuntut isi berita tersebut bener atau salah tetapi memiliki arti perintah. Akan tetapi, dalam konteks tertentu, kalimat perintah ini (Amr) terkadang menyimpang dari makna asalinya dan menunjukkan makna-makna lain, di antaranya makna doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir dan tahdid.













DAFTAR PUSTAKA

al-Jarim,  Ali. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2011).
Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung : Sygma).
Wahyudin, Yuyun. Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007)




[1] Ali al-Jarim, Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm. 251
[2] Yuyun Wahyudin, Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007) h. 95.
[3]  Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung : Sygma).
[4]  Ali al-Jarim, op. cit., h. 252 
[5] Yuyun Wahyuddin, Op.Cit, hlm. 97

0 komentar:

Poskan Komentar