Jumat, 01 November 2013

SEJARAH SEMANTIK


a.        Perkembangan Semantik Barat
Menurut Aminudin sebagaimana ia mengutip dari Ullman bahwa Aristoteles, sebagai pemikir yunani hidup pada masa 384-322 SM adalah pemikir pertama yang menggunakan istilah ‘’makna’’ lewat batasan pengertian kata yang menurut Aristoteles adalah ‘’satuan terkecil yang mengandung makna. Aristoteles juga mengungkapkan bahwa
makna kata dibedakan antara makna yang hadir dari kata itu sendiri secara otonom serta makna kata yang hadir akibat hubungan gramatikal[1].
Berbeda dengan Aristoteles, Plato yang merupakan guru Aristoteles ia menyatakan bahwa bunyi-bunyi secara inflisit juga mengandung makna-makna tertentu namun studi bahasa yang banyak di gunakan pada masa itu hanya berkaitan dengan studi filsafat, masih sedikit yang membahas tataran bunyi, tataran dramatika, dan tataran makna bahkan bisa dibilang belum ada[2].
Perbedaan antara keduanya ialah Plato percaya bahwa adanya hubungan berarti antara kata (bunyi-bunyi bahasa) yang kita pakai dengan barang-barang yang dinamainya, sedangkan Aristoteles menurut Chaer ialah pendapat  yang kita anut sekarang ini, adapun pendapatnya ialah hubungan antara bentuk dan arti kata merupakan soal perjanjian diantara pemakai bahasa.
Pada tahun 1825 seorang berkebangsaan jerman, C. Chr. Reisig, mengemukakan konsep baru tentang grammar yang meliputi tiga unsur utama yakni (1) Semasiologi, ilmu tentang tanda (2) Sintaksis study tentang kalimat serta (3) Etimologi studi tentang asal usul kata sehubungan dengan perubahan bentuk maupun makna. Pada masa kini, istilah semantik itu sendiri belum digunakan meskipun studi tentangnya sudah dilaksanakan. Sebab itulah masa tersebut oleh Ullman disebut sebagai masa pertama pertumbuhan yang diistilahkan dengan underground period.[3]
Berikutnya menjelang akhir abad XIX yakni masa kedua semantik ditandai oleh kehadiran karya Michel Breal seorang sarjana prancis dalam karangannya Essai de Semantiqe telah dengan jelas menggunakan istilah semantik dan menyebutkan bahwa semantik adalah suatu bidang ilmu yang baru. Namun dia masih menyebut semantik sebagai ilmu yang “Murni-historis”.[4]  
Masa pertumbuhan ketiga, pertumbuhan studi tentang makna ditandai dengan kemunculan karya filolog Swedia yakni Gustaf Stern, berjudul Meaning and Change of Meaning, with Special Reference to the English Language (1931). Dalam kajian itu, Stern melakukan studi makna secara inpiris dengan bertolak dari suatu bahasa yakni bahasa inggris[5].

b.        Perkembangan Semantik Arab

Padanan istilah Semantik dalam bahasa Arab ialah Ilmu Dilalah yang berasal dari kata دل- يدل- دلالة  yang memiliki arti menunjukkan. Di Jazirah Arab, kemunculan ilmu dilalah ini sudah lama, diperkirakan pada awal-awal abad. Ditandai dengan adanya perhatian yang besar dari para saintis Arab. Adapun contoh konkritnya ialah pemberian titik dan baris pada al-Qur’an. Menurut Anwar hal tersebut merupakan bagian cakupan dari ilmu dilalah (semantik), dikarenakan al-Qur’an pada awalnya hadir tanpa titik dan baris. Dan perubahan suatu kata, baik itu pemberian titik atau baris menjadikannya beralih tugas, kemudian secara otomatis memiliki makna baru[6].
Tidak sebatas itu, studi bahasa yang dilakukan oleh para saintis Arab. Al-Qur’an sebagai kitab yang kaya akan ilmu pengetahuan, ilmu dilalah merupakan salah satu diantara perangkat untuk mengkaji al-Qur’an[7].
Tahun 1883 merupakan masa kebangkitan ilmu ini, dimana seorang saintis bernama Michelle Breal mengumumkan kelahiran suatu disiplin ilmu baru yang dalam pembahasannya berfokus pada “makna/arti”. Yang disebut dengan semantic[8].
Abu Hatim al-Razi sebagai perintis perkembangan semantik, telah mengumpulkan beberapa kata yang mengalami perkembangan semantik. Menurutnya perkembangan semantik mengambil beberapa bentuk yaitu:
1. Makna lama yang diwariskan
2. Lafal lama yang diberi makna baru setelah datangnya Islam baik dalam bentuk perluasan makna, penyempitan maupun pergeseran makna.
3. Lafal yang sama sekali baru baik dari segi bangun katanya maupun maknanya yang tidak dikenal oleh orang Arab sebelumnya.
4. Lafal baru yang diserap dari bahasa asing
c.        Perkembangan Semantik di Indonesia
Sebelum kita membahas tentang semantik di Indonesia, kita akan mengulas asal dari bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yang secara resmi menjadi bahasa Indonesia pada saat sumpah pemuda, memiliki perkembangan yang sangat cepat dan sebuah bahasa daerah yang memang sudah berfungsi sebagai lingua panca di Nusantara menjadi suatu bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa Negara[9]
Studi yang serius mengenai bahasa Indonesia telah banyak dilakukan orang, baik yang dilakukan sarjana bangsa Indonesia sendiri maupun bangsa asing. Semua segi dan aspek kebahasan bahasa Indonesia telah di teliti orang salah satunya masalah Semantik. Pembicaraan khusus mengenai semantik bahasa Indonesia sejauh ini yang ada barulah dari Slamet Mulyana (1964) dan D.P. Tampu bolon (1979). Sedangkan yang dibuat Mansur pateda dan Aminuddin adalah bersifat umum teoritis ilmiah.[10]
     

























DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, Semantik Pengantar Studi Tentang Makna, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2011.
Abdul Galey, Manqur Ilmu Ad-Dilalah, Ushuluh wa Mabahitsu Fi At-Turats Al-Araby, Damaskus: Maktabah Al-Asad, 2001.
Chaer, Abdul Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Jakarta  : Rineka Cipta,2009.
Anwar, Pengantar Ilmu Dilalah, terbaca dalam http://kesanpertama.wordpress.com. Diakses pada Sabtu, 14 September 2013, Pkl. 11:54 WIB.







[1] Aminudin, Semantik Pengantar Studi Tentang Makna .(Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2011) hal 15
[2] Abdul Chaer, Pengantar Semantic Bahasa Indonesia.(Jakarta  : Rineka Cipta,2009), hal 13.
[3] Aminudin, Op. Cit.  Hal 16
[4] Abdul Chaer Op.  Cit., hal.14
[5] Aminudin, Loc. Cit.
[6] Anwar, Pengantar Ilmu Dilalah, terbaca dalam http://kesanpertama.wordpress.com. Diakses pada Sabtu, 14 September 2013, Pkl. 11:54 WIB.
[7] Ibid.
[8] Manqur Abdul Galey, Ilmu Ad-Dilalah, Ushuluh wa Mabahitsu Fi At-Turats Al-Araby, (Damaskus: Maktabah Al-Asad, 2001), h. 15.
[9] Abdul Chaer. Op. Cit., hal 24.
[10] Ibid.

0 komentar:

Poskan Komentar