Jumat, 01 November 2013

ANALISIS NOVEL "REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU" KARYA TERE LIYE (PENDEKATAN SOSIOLOGI)

BAB I
PENDAHULUAN
a.     Latar Belakang
Kritik sastra menurut Hardjana[1] ialah bentuk tulisan yang lahir dari hasil seorang pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra. Dalam artian kritik sastra ini bukanlah hasil kerja yang sangat luar bisas, siapapun itu pembaca karya sastra bisa membuat kritik sastra yang baik, dengan catatan
ia harus terlatih kepekaan cintanya dan mempunyai nilai sastra yang tinggi.[2] Yang menjadi objek kajian kritik sastra ialah karya sastra itu sendiri.
Cara seseorang memandang karya sastra itu akan berpengaruh dan memberi bentuk terhadap pendekatan yang akan digunakan dalam kritik sastra[3]. Menurut Atar Semi kritik sastra pernah dikotak-kotakkan dengan berbagai cara entah itu menurut sifat, tujuan, sejarah, atau lingkungan social geografis. Hal ini menandakan bagaimana para kritikus mencoba melakukan pendekatan melalui berbagai jalan dan ikhtiar. Dalam mengkritik sastra kita bisa mengkritik dengan beberapa pendekatan, salah satunya ialah pendekatan sosiologi[4]
b.     Pengertian Sosiologi
Istilah sosiologi merupakan istilah yang selalu berkaitan dan berhubungan dengan masyarakat. Secara bahasa kata sosiologi berasal dari kata sosius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos  yang berarti “kata” atau “berbicara”, dapat disimpulkan kata “sosiologi” artinya “berbicara mengenai masyarakat[5].
Adapun pengertian sosiologi secara istilah sebagaimana yang diungkapkan oleh Semi sebagai berikut[6] ; “sosiologi adalah suatu telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang social dan proses sosial itu tumbuh dan berkembang”.
Menurut Sorokim sebagaimana yang dikutip Simamora, ia mendefinisikan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dengan moral hukum dan dengan ekonomi, gerak masyakat dengan ekonomi, gerak masyarakat dngan politik dan lain sebagainya). Ciri-ciri umum dari pada semua jenis gejala-gejala sosial[7].
Sastra dan sosiologi memiliki hubungan yang kuat, yakni keduanya memiliki urusan dengan manusia, bahkan untuk sebagian masyarakat tertentu sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Disamping itu, keduanya memiliki perbedaan sebagaimana menurut Supardi yang dikutip oleh Semi, perbedaan keduanya ialah analisis ilmiah dalam sosiologi itu secara objektif, sedangkan sastra itu secara subjektif[8]. Sebagaimana contoh ketika ilmuan sosiolog yang meneliti atas objek atau masyarakat yang sama, maka kemungkinan besar hasil dari penelitian tersebut akan memiliki banyak persamaan. Sedangkan jika ada dua novelis mengarang suatu karya sastra yang objeknya sama. Sedangkan menurut Prof. Awang Salleh, jika sosiologi itu bersifat kognitif sedangkan sastra itu bersifat afektif[9].
c.      Metode dan Pendekatan
Pendekatan sosiologi merupakan pendekatan yang bertitik tolak dengan orientasi kepada pengarang. Atar Semi menganggap bahwa pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan suatu masyarakat. Sama halnya dengan Semi, Nyoman berpandangan bahwa pendekatan sosiologi menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu.
Sosiologi sastra merupakan suatu telaah sosiologis terhadap suatu karya sastra, terdapat tiga klasifikasi dalam telaah ini sebagaiman yang dikutip oleh Wellek dan Warren[10] ;
-        Sosiologi pengarang; mempermasalahkan tentang status social, idiologi politik,serta hal-hal yang menyangkut pengarang.
-        Sosiologi karya sastra, mempermasalahkan tentang suatu karya sastra; yang menjadi titik focus telaah adalah tentang apa tujuan dan amanat yang akan dituangkan.
-        Sosiologi sastra, yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.    
Suatu hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologi ini adalah bahwa walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada di lingkungannya, namun ia belum tentu menyuarakan keamanan masyarakatnya. Dari arti ia tidaklah mewakili atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok masyarakat tertentu, yang pasti pengarang menyalurkan atau mwakili hati nuraninya sendiri, dan bila ia kebetulan mengucapkan sesuatu yang bergejolak dimasyarakat, hal ini merupakan suatu kebetulan ketajaman batinnya dapat menangkap isyarat-isyarat tersebut[11].
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pendekatan sosiologis mempunyai segi yang bermanfaatdan berdaya guna yang tinggi bila para kritikus tidak melupakan atau memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, disamping memperhatikan faktor-faktor sosiologis serta menyadari bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreatifitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi[12].
d.     Langkah Kerja
Adapun langkah kerja dalam pendekatan sosiologi menurut Mawardi ialah sebagai berikut[13];
1.     Bacalah berulang-ulang karya sastra yang hendak dikritisi.
2.     Fahami secara mendalam tentang pengertian sosial budaya dan sosiologi kemasyarakatan.
3.     Perhatikan tentang aspek sosial pengarang  dan aspek sosial dalam karya sastra.
4.     Perhatikan tanggapan khalayak pembaca atau masyarakat luas terhadap pemanfaatan aspek sosial budaya yang ada oleh pengarang dalam karyanya.
5.     Perhatikan tentang falsafah pengarang, idiologi, politik, status sosial, pendidikan, agama dan budaya hidupnya.
6.     Lakukan tela’ah terhadap aspek intrinsik yang berkaitan dengan perwatakan, tema dan pesan yang terdapat dalam karya sastra.
7.     Watak yang mengandung nilai adalah watak yang mencerminkan kegigihan perjuangan dalam perjuangan membela masyarakat atau kebenaran sosial.
8.     Tema dan pesan yang mengandung nilai sosial adalah yang mencerminkan kehendak  nurani masyarakat pada masanya, dan masyarakat di masa depan.
9.     Perhatikan resfon masyarakat terhadap keberadaan karya tersebut, apakah  merasa terwakili batinnya atau tidak? Semakin besar  keberpihakan karya sastra terhadap kepentingan masyarakat, semakin besar pula respon yang diberikan.
10.  Perhatikan aspek tata nilai, budaya dan falsafah yang terdapat dalam karya   sastra, melalui aspek indoktrinasi, dokma, sikap kepribadian dan proses sosial pengarang.
11.  Semakin besar nilai manfaat karya sastra terhadap masyarakat, semakin tinggi nilai karya sastra tersebut.
12. Akhir penilaian : sastra sosialis/humanis atau individualis.

BAB II
PEMBAHASAN

a.     Sinopsis Novel ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’
Novel ini kita diajak berkelana untuk menyelami kehidupan seseorang yang bernama Rehan yang menjadi tokoh utama di cerita ini.Sang tokoh di besarkan di sebuah Panti Asuhan selama 16 tahun. Disini dia merasa mendapat perlakuan yang tidak layak dari pengelola panti yang dia anggap sok suci. Setelah masa 16 tahun di Panti Asuhan yang dia anggap sia-sia, Rehan memutuskan untuk pergi. Selepas dari panti Rehan menjalani kehidupan yang tidak menentu, mulai dari emperan terminal hingga ke lapak2 di pinggir rel. Hingga suatu kejadian yang akhirnya memaksa Rehan untuk berjuang bertahan hidup di Ibu kota.
Memulai kehidupannya di Ibu kota, Rehan sempat bernaung di sebuah rumah singgah yang mempertemukannya dengan beberapa teman yang akhirnya disebut sebagai keluarga olehnya. Disini dia berkesempatan memperoleh pendidikan yang nantinya akan menghantarkannya menjadi salah seorang pemilik kerajaan bisnis yang disegani suatu hari kelak.
Dikisahkan pula bagaimana Rehan menemukan cinta sejati nya di sebuah gerbong kereta api sewaktu di perjalanan kembali ke kota asalnya. Dia memutuskan kembali kesana untuk melupakan kenangan pahit bersama Plee yang hidup nya harus berakhir di tiang gantungan. Di kota asal nya inilah Rehan mulai menata hidupnya dengan bekerja sebagai buruh bangunan. Rehan adalah seorang pembelajar yang baik, maka tidak heran dalam waktu singkat dia mampu mendapatkan posisi sebagai kepala mandor di dalam proyek-proyek yang diikuti nya. Di kota ini juga Rehan memulai dan mengakhiri kehidupan berumahtangganya dengan seorang perempuan bernama fitri.
Satu kebiasaan Rehan yang tidak pernah berubah adalah melihat rembulan. Mulai dari teras panti asuhan, di atap rumah singgah, di tower air hingga di lantai tertinggi gedung miliknya.

Potongan-potongan kehidupan Rehan yang dikilas balik di novel ini adalah untuk menjawab lima pertanyaan yang terus membayangi nya. Apa saja kelima pertanyaan itu dan bagaimana jawaban-jawaban atas kelima pertanyaan itu.
Semua jawaban Dirangkum Tere Liye dengan sederhana. Kita diajarkan untuk melihat sesuatu diluar sudut pandang kita. Memperkaya pola pikir kita untuk selalu berpikir positif pada Tuhan. Semua hal dalam hidup kita telah Tuhan persiapkan dengan baik. Meski buku ini ditulis dengan alur mundur, tak membuat kita berpikir dua kali untuk membacanya. Hanya harus sedikit jeli. Tere Liye mengemasnya dengan baik, hingga kita dibuat penasaran sampai lembar terakhir buku ini. Bersiaplah kaget dengan kalimat-kalimat bijak yang mengantarkan kita untuk lebih memahami hidup.
b.     Unsur Instrinsik Novel ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’
Dalam novel ini juga, terdapat beberapa unsur-unsur intrinsik  yang ada dalam novel pada umumnya. Adapun analisis dari unsur-unsur  intrinsik tersebut ialah sebagai berikut;
-     Tema
Menurut Scharbach “Tema” berasal dari bahasa Latin  yang berarti ‘tempat meletakkan sesuatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Lebih lanjut Scharbach menjelaskan bahwa tema is not synonymous with moral or message… theme does relate to meaning and purpose, in the sense. Adapun  dalam novel tersebut bertemakan kisah cinta yang membutuhkan pengoebanan dan banyak ujian sebelum dan sesudah membina rumah tangga.
-     Alur/plot
Pada dasarnya alur/plot itu sering juga disebut jalan cerita. Namun, terdapat perbedaan antara keduanya. Adapun alur itu hanya merupakan sebuah jalan cerita, sedangkan plot merupakan penggerak kejadian cerita yang didalamnya terdapat hubungan sebab akibat, dan dapat menyebabkan kejadian lain[14].
Pada awal cerita dalam novel ini beralur mundur dan pada akhir cerita berakhir campuran.
a.      Perkenalan
Perkenalan yang secara tidak sengaja terjadi di salah gerbong kereta ketika Rehan memesan makanan dan fitri mengantarkan pesanan makanan yang di pesan Rehan ke meja orang lain secara tidak sengaja. Setelah itu dengan tersipu malu fitri menunjuk ke muka Rehan, semenjak saat itu Rehan mulai jatuh pada sesosok wanita cantik bernama fitri setiap fitri pergi selalu diikuti suatu ketika fitri diselamatkan oleh Rehan dari kejaran pencuri yang ingin mengambil tas setelah kejadian itu mereka berdua menjadi semakin dekat.
b.     Klimaks
Pertemuan yang secara tidak sengaja di salah gerbong kereta ketika Rehan duduk di pojok dan Fitri salah mengantar makanan dengan tersipu malu.
c.      Antiklimaks
Setelah Rehan menikah dengan Fitri dan hamil berbagai persiapan sudah dilakukan tinggal menghitung bulan usia kehamilan fitri sudah memasuki bulan ke 7 tetapi kejadian yang kurang menyenangkan menimpa ketika Fitri menunggu Rehan pulang kerja terjatuh, kejadian itu membuat mereka kehilangan anak pertamanya dan memutuskan pindah rumah dari daerah pantai. Mereka memutuskan pindah di daerah perbukitan setelah lama menunggu Fitri hamil kedua kalinya tetati kejadian itu terulang kembali Fitri kecapekan dan jatuh lagi, usia kandungan itu memasuki tuju bulan karena kandungan Fitri lemah kejadian itu berakibat fatal nyawa anak dan istrinya tidak tertolong lagi.semenjak kejadian itu Rehan tidak mempunyai gairah untuk hidup yg dia ingat hanya kesedihan di masa lalunya, bulan sudah berlalu ketika mengunjungi makam istri dan anaknya rehan bertemu Vin gadis yang selalu ceria dan selalu membersihkan makam istrinya setelah kejadian itu Rehan sedikit bisa melupakan kesedihan dimasa lalu, rasa kangennya kepada istrinya terobati karena roti pisang yang selalu dibuatkan Fitri sama rasanya yang dibuatkan oleh Vin.
-   Setting
Setting merupakan tempat atau terjadinya cerita. Setting itu terbagi menjadi tiga;
a.        Setting waktu, adapun setting waktu yang terjadi dalam novel ini ialah Pagi, siang, sore dan malam.
b.       Setting Tempat; kantor tempat kerja, panti asuhan, kontrakan,kantor polisi.
c.        Setting Suasana; hening, sepi, mengkhawatirkan dan menakutkan.
-      Penokohan
Menurut Abrams, tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan[15]. Rehan memiliki sifat yang mudah marah,setia  kawan,mandiri,konsisten dan pantang menyerah
a.         Diar memiliki sifat ramah,setia kawan,selalu mengalah
c.        Plee memiliki sifat tidak pantang menyerah
d.        Fitri memiliki sifat lembut,ramah
e.        Vin memiliki sifat ramah,selalu ceria
f.         Koh Cheu sesosok yang ambisius
g.        Natan setia kawan, pantang menyerah
-      Amanat
Amanat/pesan moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya yang disampaikan lewat cerita. Amanat/ pesan moral pada umumnya mempunyai pengertian sebagai ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan sebagainya. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang tentang nilai-nilai kebenaran[16]. Adapun amanat dalam novel ini mengingatkan bahwa hidup itu sederhana.

d.     Analisis Novel dengan Pendekatan Sosiologi
Dalam analasis novel yang dilakukan oleh penulis dengan pendekatan sosiologi lebih menitik beratkan terhadap masalah-masalah social yang terdapat dalam novel ini. Masalah sosial dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye dapat mengungkapkan realitas sosial yang ada di tengah masyarakat. Masalah yang diungkapkan dekat dengan persoalan keseharian manusia. Masalah sosial yang dialami oleh tokoh merupakan informasi yang berharga, yang dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca untuk mempersiapkan kehidupannya menjadi lebih baik.
Adapun masalah-masalah sosial yang ada dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye ialah sebagai berikut;
-        Kejahatan, terwakilkan dalam kutipan berikut ;
“Bilah rotan itu tanpa ampun meluncur ke pantat. Satu kali. Sakit sekali. Apalagi celananya lusuh dan tipis pula. Mana bisa menahan pecutan pedas di kulit. Muka Rehan memerah menahan rasa nyeri. Dia tidak akan berteriak, teriakannya berarti kesenangan bagi penjaga Panti. Simbol kemenangan bagi penjaga Panti. Rehan mencengkram celananya lebih kencang.”
-        Disorganisasi keluarga, Hal ini dapat terlihat pada kutipan berikut.
“Harusnya kubiarkan anak bangsat sepertimu tetap dijalanan! Harusnya ku tolak mentah-mentah saat bayi merahmu di antar ke Panti! Sekarang, kau membalas semua kebaikan dengan perangai bejat.”
Penyebab terjadinya masalah sosial dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu disebabkan oleh faktor kebudayaan dan faktor psikologis. Faktor kebudayaan meliputi disorganisasi keluaga, kenakalan anak muda, lingkungan sosial. Sedangkan faktor psikologis adalah alkoholisme.
Masalah sosial dalam novel Rembulan tenggelam di Wajahmu disebabkan oleh disorganisasi keluarga. Kurang lengkapnya keluarga yang dimilki oleh Rehan mengakibatkan ia harus tinggal di panti asuhan. Kedua orang tua Rehan meninggal karena terjadinya peristiwa kebakaran di komplek perumahan di tempat ia tinggal. Di panti asuhan setiap anak disuruh bekerja oleh penjaga panti asuhan. Hasil kerja mereka dikumpulkan oleh penjaga panti asuhan untuk memenuhi ambisinya untuk naik haji.
Lingkungan sosial masyarakat sekitar juga merupakan faktor peyebab masalah sosial. Masalah lingkungan sosial yang terdapat pada novel yaitu kurangnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Menyibukkan diri masing-masing dengan urusan mereka sendiri. Ini terbukti saat Natan dipukuli oleh para preman di jalanan, masyarakat di sekitar tempat kejadian hanya melihat saja. Mereka tidak mau menyibukkan diri dengan hal yang mereka tidak anggap penting. Selain itu, pada saat Rehan yang mau berjudi karena melihat uang yang dibawa Rehan, penjaga ruko hanya diam melihat Rehan masuk. Rehan mulai belajar judi pada umur dibawah enam belas tahun.
Kenakalan remaja juga menjadi pemicu terjadinya masalah sosial. Terjadinya perkelahian yang berdarah itu berawal dari perkelahian kecil yang dilakukan oleh empat pemuda tanggung. Mereka yang menganiaya anak rumah singgah yang bernama Ilham. Hal ini membuat Rehan marah. Terjadilah perkelahian kecil antara empat pemuda tanggung itu dengan Rehan, karena tidak menerima temannya disakiti. Preman melakukan pembalasan terhadap Rehan. Pembalasan demi pembalasanpun dilakukan oleh preman.



BAB III
PENUTUP
a.        Kesimpulan
-        Sosiologi adalah suatu telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang social dan proses sosial itu tumbuh dan berkembang.
-        Pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan suatu masyarakat.
-        Dalam analasis novel yang dilakukan oleh penulis dengan pendekatan sosiologi lebih menitik beratkan terhadap masalah-masalah social yang terdapat dalam novel ini. Masalah sosial dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye dapat mengungkapkan realitas sosial yang ada di tengah masyarakat.
-        Novel ini merupakan karya sastra sosialis karena didalamnya menguak berbagai permasalahan dan kondisi social masyarakat Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA
Hardjana, Andre.  1994. Kritik Sastra Sebuah Pengantar.  Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Nurgiyantoro,  Burhan.  1995 . Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung : Angkasa
Simamora, F . Analisis Sosiologi Sastra Cerita Asal Pulau Simamo. Medan : USU Reposity, Pdf Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia





[2] Andre Hardjana, Kritik Sastra Sebuah Pengantar, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1994), h. xi.
[3] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 39.
[4] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 43.
[5] Mawardi, Kritik Sastra Bagian V, (ppt : slide ke-1). Disampaikan pada perkuliahan semester V BSA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
[6] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 52.
[7] F Simamora, Analisis Sosiologi Sastra Cerita Asal Pulau Simamo, (Medan : USU Reposity, Pdf), h. 3.
[8]  Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 52-53.
[9] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 53.
[10] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa, 1989), h. 53.
[11] F Simamora, Analisis Sosiologi Sastra Cerita Asal Pulau Simamo, (Medan : USU Reposity, Pdf), h. 15.
[12] F Simamora, Analisis Sosiologi Sastra Cerita Asal Pulau Simamo, (Medan : USU Reposity, Pdf), h. 15.
[13] Mawardi, Kritik Sastra Bagian V, (ppt : slide ke-6-8). Disampaikan pada perkuliahan semester V BSA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[14] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Apresiasi Kesusastraan, (Jakarta: Gramedia, 1986), hal. 91.
[15] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995), hal. 165.
[16] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995), hal. 320.

0 komentar:

Poskan Komentar