Selasa, 14 Mei 2013

TRADISI NGALAKSA DI DESA RANCAKALONG KECAMATAN RANCAKALONG KABUPATEN SUMEDANG


BAB I
PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang
Desa Rancakalong merupakan salah icon kebudayaan sunda yang terletak di Kabupaten Sumedang dan merupakan pusat kebudayaan Sumedang. Hal ini dikarenakan masyarakat di Kecamatan Rancakalong memegang erat warisan budaya dan seni Sunda, terutama
di daerah Sumedang. Ada beberapa tradisi  Sunda yang sampai saat ini masih terjaga dengan rapi, diantaranya; Mbubur Suro, Hajat Golong, Rebo Wekasan, begitu juga tradisi Ngalaksa dsb. dan semuanya dilaksanakan secara rutin setahun sekali, seperti Mbubur Suro dilaksanakan setiap bulan Muharram, Rebo Wekasan pada bulan Shoffar dll.
Pada umumnya, dalam setiap tradisi sunda yang terdapat di Rancakalong memiliki nilai-nilai Islam, seperti Rebo Wekasan sebagai ‘tolak bala’, Hajat Golong sebagai wujud rasa persatuan antar masyarakat, juga Ngalaksa merupakan wujud syukur terhadap Tuhan YME.  
b.   Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas dapat dirumuskan sebagai berikut;
-          Apa itu tradisi Ngalaksa?
-          Apa tujuan tradisi tersebut?
-          Bagaimana nilai-nilai islam yang terkandung dalam tradisi tersebut?
c.    Tujuan
-          Agar mengetahui dan memahami tradisi Ngalaksa secara mendalam
-          Agar mengetahui tujuan dari tradisi Ngalaksa tersebut
-          Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut


BAB II
LOKASI PENELITIAN

a.      Letak Geografis Kecamatan Rancakalong
Lokasi penelitian yang kita ambil yaitu di Kecamatan Rancakalong yang terletak di kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Daerah Rancakalong merupakan suatu kecamatan yang berada di sebelah barat Kabupaten Sumedang. Panorama alam Rancakalong yang indah memperlihatkan kecantikan pesona alam pedesaan yang merupakan perpaduan bukit, lembah, dan hamparan sawah serta udara yang masih segar. Keaslian 94 alamnya memperlihatkan belum daya tarik tersendiri.Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rancakalong masih kuat memegang teguh rasa tolong-menolong dan gotong royong, hal tersebut dapat dilihat ketika mereka bercocok tanam. Pada saat bercocok tanam, merekam selalu saling membantu pada saat waktu melakukan panen atau menanam padi, bahkan dalam penanggulangan hama. Kecamatan Rancakalong pada awalnya hanya terbagi atas lima desa, yaitu Desa Rancakalong, Desa Cibunar, Desa Pasirbiru, Desa Pangadegan, dan Desa Sukahayu. Pada tahun 1982 Kecamatan Rancakalong terbagi menjadi empat belas desa, yaitu Desa Rancakalong, Desa Pamekaran, Desa Sukahayu, Desa Sukamaju, Desa Pasirbiru, Desa Sukasirnarasa, Desa Cibunar, Desa Nagarawangi, Desa Pangadegan, Desa Cibungur, Desa Cijeruk, Desa Cigendel, Desa Ciherang, dan Desa Pamulihan. Alasan adanya pemekaran wilayah desa di Kecamatan Rancakalong pada tahun 1982 adalah untuk mempermudah pengelolaan pemerintahan kecamatan, selain itu dikarenakan setiap desa di Kecamatan Rancakalong mempunyai wilayah yang luas, sehingga membuat penduduk susah untuk menjangkau kantor desa tempat mereka tinggal. Jika ada urusan yang sifatnya penting dan harus segera diselesaikan menjadi tertunda karena jarak yang jauh antara penduduk dan kantor desa.
Pada Tahun 2000, empat desa di wilayah Kecamatan Rancakalong terpisah dan masuk menjadi wilayah lain. Alasan terjadi pemisahan tersebut adalah terlalu jauhnya letak wilayah desa yang dipisahkan tersebut dengan pusat pemerintahan Kecamatan Rancakalong sehingga terjadi kendala pada saat pengelolaan dan pemantauan oleh pemerintahan Kecamatan Rancakalong. Desa yang dipisahkan 95 dari Kecamatan Rancakalong tersebut adalah Desa Ciherang dan sekarang menjadi bagian dari Kecamatan Sumedang Selatan. Sedangkan Desa Cigendel, Desa Cijeruk, dan Desa Pemulihan masuk menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Pamulihan. Akhirnya, wilayah Kecamatan Rancakalong terbagi menjadi sepuluh desa, yaitu Desa Rancakalong, Desa Pamekaran, Desa Sukahayu, Desa Sukamaju, Desa Pasirbiru, Desa Sukasirnarasa, Desa Cibunar, Desa Nagarawangi, Desa Pangadegan, dan Desa Cibungur. Sampai tahun 2011 di Kecamatan Rancakalong tidak terjadi lagi pemekaran wilayah ataupun pemisahan wilayah desa. Kecamatan Rancakalong termasuk daerah pegunungan yang terletak berada di wilayah Gunung Puter atau sebelah timur Gunung Manglayang, dan mempunyai rata-rata ketinggian antara 727-1000 m di atas permukaan laut. Suhu di Kecamatan Rancakalong antara 18 C sampai 26 C, dengan curah hujan 275,05 mm (Kecamatan Rancakalong, 2007:1). Luas keseluruhan wilayah Kecamatan Rancakalong adalah 5.270 Km2.

Peta Kecamatan Rancakalong




BAB III
KESENIAN NGALAKSA DI DESA RANCAKALONG

a.    Pengertian Ngalaksa
Ngalaksa yaitu salah satu tradisi seni yang pusat pelaksanaanya ada di Kecamatan Rancakalong dan sifatnya turun temurun. Kata Ngalaksa berasal dari bahasa Sunda, yaitu laksa yang merupakan suatu jenis makanan. Jadi Ngalaksa bisa diartikan sebagai suatu upacara yang membuat makanan dari tepung beras, yang dicampur dengan kelapa, apu, dan garam. Kemudian dicampurkan dan dibungkus dengan daun congkok. Setelah itu direbus menggunakan air daun combrang. Dimana rangkaian kegiatan upacara tersebut dari awal hingga akhir diiringi oleh kesenian Tarawangsa.
Ngalaksa sebelumnya dilaksanakan tiga tahun sekali. Baru setelah diresmikan oleh pemerintah Kabupaten Sumedang acara Ngalaksa dilaksanakan sekali dalam setiap tahunnya. Adapun tempatnya dilaksanakan di pusat wisata Rancakalong, Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong. Adapun pelaksana atau penyelenggara acara digilir bergantian setiap desa se-Kecamatan Rancakalong. Pada tahun 2012 pelaksananya di panitiai oleh warga Desa Cibunar, sedangkan pada tahun 2013 pelaksananya akan diselenggarakan oleh Desa Rancakalong, tepatnya pada tanggal 19 Juni 2013.

b.   Sejarah Ngalaksa
Diketahui bahwa jaman dahulu pada tahun 1620-an, pada jaman pemerintahan Suryadiwangsa di Sumedang, keadaan di Sumedang sedang sibuk. Saat itu wilayah Sumedang berada dalam kekuasaan kerajaan Mataram. Karena merasa tidak aman, masyarakat Sumedang melarikan diri ke dua tempat yang berbeda. Para Aparat Pemerintahan pergi ke Dayeuh Luhur, sebagian lagi yaitu para Budayawan lari ke Rancakalong.
Saat itu, Kerajaan Mataram memiliki rencana untuk menyerang VOC ke Batavia. Maka ditentukan bahwa pusat perbekalan perang Kerajaan Mataram ada di Cirebon yang saat itu dipimpin oleh Dipati Ukur. Bahan pangan, terutama padi di seluruh wilayah Kerajaan Mataram harus dikirim ke Cirebon. Begitu pun Sumedang, bahan pangan seperti padi, palawija, dan sebagainya habis semua diberikan ke Cirebon. Tentunya saat itu di Sumedang mengalami paceklik atau susah pangan. Melihat keadaan tersebut, masyarakat memiliki inisiatif mengirimkan utusan ke Cirebon. Ada 13 orang utusan yang dipimpin oleh Jatikusumah mempunya tugas untuk membawa benih padi dari Cirebon ke Sumedang. Tetapi setelah 3 tahun ternyata tidak membuahkan hasil. Ini karena ketatnya pengawasan dari penjaga Cirebon. Para utusan tertangkap, digeledah pada saat membawa benih padi. Oleh karena itu Jatikusumah meminta kepada Pemerintah Sumedang untuk mencarikan seniman Tarawangsa. Saat itu Sumedang langsung mengutus 2 orang seniman Tarawangsa untuk pergi ke Cirebon. Dengan kepintaran 2 utusan tadi mereka berpura-pura menjadi pengamen, akhirnya benih padi pun bisa sampai ke Sumedang. Sejak saat itu masyarakat Sumedang tidak lagi mengalami paceklik karena benih padi yang ditanam hasilnya selalu baik.
Setelah mengetahui di Rancakalong hasil panen sangat melimpah, diputuskan Sumedang harus mengirim padi ke Cirebon dalam bentuk makanan yang sudah matang. Saat itu masyarakat Rancakalong mengolah padi menjadi suatu makanan yang disebut laksa, serta setiap panen harus menyerahkan ke Cirebon untuk bekal perang. Sejak saat itu, kebiasaan membuat laksa itu dijalankan setelah panen, serta mengirimkannya ke Cirebon.
Lama-lama para pembuat laksa meninggal karena usianya yang sudah tua. Akhirnya semuanya meninggal, meninggalkan 1 anak yang berumur 12 tahun. Anak tersebut bernama Emod. Selanjutnya diangkat oleh seorang warga Desa Rancakalong, sampai berumur 35 tahun. Dari Emod berumur 12 tahun hingga 35 tahun, kebiasaan membuat laksa berhenti.

c.    Teknis Pelaksanaan Ngalaksa
Dalam pelaksanaan upacara adat Ngalaksa, peserta dalam upacara tentunya tidak hanya masyarakat lokal yang melaksanakan upacara, tetapi masyarakat luar pun ikut dalam kegiatan upacara. Dalam upacara adat Ngalaksa juga demikian. Selain dari peserta inti upacara, yaitu masyarakat Desa Rancakalong, juga sering dihadiri oleh tamu undangan dan simpatisan, yaitu masyarakat di luar penduduk resmi, daerah Rancakalong. Masyarakat yang mepunyai hubungan dengan panitia inti biasanya selalu datang ikut hadir di tengah-tengah acara untuk berkumpul dengan keluarganya. Kadang-kadang para simpatisan yang memiliki hubungan dengan masyarakat lokal juga ikut membantu dan memberi sumbangan berupa makanan dan minuman untuk kebutuhan upacara.
Dalam upacara adat Ngalaksa ada yang disebut penyelenggara teknis, yaitu orang-orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara, melaksanakan rangkaian upacara. Para penyelenggara teknis yaitu orang-orang yang mempunyai garis keturunan dengan para sesepuh. Artinya tugas-tugas yang dikerjakan berupa warisan turun temurun dari generasi tua ke generasi muda selaku calon penerusnya. Penyelenggara teknis dalam upacara adat Ngalaksa diantaranya:
1.      Ketua Rurukan atau Ketua Kampung, yaitu tuganya memimpin upacara serta mengatur jalannya upacara. Ketua rurukan yang membuka acara dan diawal memberikan contoh kepada peserta upacara mengenai semua kegiatan yang akan dilaksanakan.
2.      Juru Ijab atau Wali Puhun, yaitu tokoh yang tugasnya selaku mediator yang mengucapkan mantra-mantra dan do’a untuk roh para leluhur. Juru Ijab harus hapal mantra dan do’a dalam upacara. Juru Ijab merupakan sesepuh paling tua dalam jajaran struktur upacara, atau bisa disebut juga ketua adat;

3.      Candoli, yaitu tokoh yang tugasnya menunggu dan mengerjakan segala pekerjaan dan keperluan di tempat penyimpanan sesaji (goah);
4.      Saehu, seorang penari sakral khusus dalam upacara. Saehu seperti primadona diantara penari-penari lain. Ada juga saehu perempuan yang fungsinya hampir sama dengan saehu laki-laki. Tokoh saehu perempuan ini biasanya istri dari salah satu sesepuh;
5.       Juru tulis, yaitu tokoh yang tugasnya menerima dan mencatat sumbangan dari warga masyarakat untuk keperluan upacara. Setelah selesai upacara, juru tulis membagi-bagikan lontong kepada semua peserta upacara sebagai balas jasa;
6.      Petugas-petugas lainnya, diantara petugas yang menumbuk padi, membuat laksa, memasak, merebus, membungkus, dan menerima tamu.

Untuk membedakan antar penyelenggara upacara dengan masyarakat awam lainnya, setiap petugas memakai tanda khusus, yaitu memakai selendang yang dipasang dari bahu sebelah kiri ke pinggang sebelah kanan.

d.    Peralatan dan Perlengkapan Upacara
sebelum melaksanakan upacara, sesepuh-sesepuh sesepuh dan tokoh masyarakat lain mengadakan dulu rundingan menentukan segala rupa barang-barang yang akan digunakan dalam upacara. Barang-barang itu berupa bahan olahan, peralatan untuk mengolah bahan, perlengkapan, serta peralatan untuk sasajen.
-     Bahan olahan, diantaranya: padi yang banyaknya kurang lebih 670 kg, minyak kelapa, combrang satu kerajang, daun congkok 10.000 lembar, apu 1 kg, daun cariang 500 lembar, 1 ekor ayam, lalu makanan seperti opak, ranginang, tangtang angin, ketupat dan pisang yang jumlahnya tidak terbatas.
-     Peralatan yang diperlukan, diantaranya : tumbukan yang banyaknya 7 buah, dulang 1 buah untuk membuat adonan, alu yang banyaknya 45 buah, nampan 20 buah, bakul dan keranjang masing-masing 20 buah, tanggungan 20 buah, kain penutup padi dan beras yang banyaknya 20 lembar, peralatan dapur seperti piring, gelas, yang jumlahnya tidak ditentukan, minyak tanah 50 liter dan kayu bakar 10 ikat. Sedangkan khusus peralatan untuk membuat laksa gencet, yaitu : titihan sepasang, cacadan dari kayu yang panjangnya 5 meter, sepotong lidi yang panjangnya 1,5 meter, ancak beberapa buah untuk tempat menyimpan laksa gencet, tungku 1 buah, kancah yang diameternya 60-80 cm sebanyak 10 buah, tungku yang terbuat dari batang pohon pisang sebanyak 10 pasang, tempat untuk air comrang dan air asem secukupnya;
-       Perlengkapan upacara, diantaranya : baju perempuan dan selendangnya untuk dipajang yang banyaknya 10 pasang, baju laki-laki 10 pasang, selendang untuk penari 10 pasang, payung 1 buah, kasur dan alasnya 1 pasang, jentreng dan tarawangsa 2 buah;
-       Perlengkapan sasajen, diantaranya : minyak kelapa, rampe, kemenyan, tempat alan untuk wanita berdandan, kendi, telur ayam, beras dan uang yang disimpan dalam wadah, kunyit yang sudah ditumbuk, dua perangkat pakaian laki-laki dan perembuan lengkap dengan pusaka keris, selendang sebagai tanda kepanitiaan dan keperluan tari, makanan ringan berupa kue, opak, ranginang, dan sebagainya yang banyaknya 9 buah, kelapa muda, dan sebagainya.

e.    Nlai-nilai Islam dalam Tradisi Ngalaksa
Dalam tradisi ngalaksa ini banyak terdapat nilai-nilai Islam, baik yang tersurat maupun tersirat. Diantaranya ialah;
-       Ngalaksa, pada dasarnya merupakan wujud syukur masyarakat kepada Allah SWT., atas limpahan berkah yang diberikan kepada masyarakat Kecamatan Rancakalong  pada khususnya dan masyarakat sunda pada umumnya.
-       Ngalaksa, dalam prosesinya banyak dibacakan mantera-mantera. Dimana mantera-mantera tersebut isinya secara keseluruhan adalah dakwah islamiyah; syair atau mantera yang pernah digunakan para wali untuk menyebarkan islam lewat kesenian dan tradisi ini.



BAB IV
KESIMPULAN

Dari penelitian yang kami lakukan, dapat diperoleh bahwa Upacara Adat Ngalaksa yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat Kecamatan Rancakalong merupakan suatu tradisi yang dilakukan secara turun menurun. Ngalaksa yaitu salah satu tradisi seni yang pusat pelaksanaanya ada di Kecamatan Rancakalong dan sifatnya turun temurun. Kata Ngalaksa berasal dari bahasa Sunda, yaitu laksa yang merupakan suatu jenis makanan. Jadi Ngalaksa bisa diartikan sebagai suatu upacara yang membuat makanan dari tepung beras, yang dicampur dengan kelapa, apu, dan garam.
Adapun tujuan diselenggarakannya tradisi tersebut ialah; pertama,  sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang diberikan kepada masyarakat Rancakalong khususnya. Sarana untuk menghormat kepada Dewi Sri. Bisa disebutkan bahwa padi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Padi harus dimanfaatkan dengan baik, jika tidak, maka akan ada rasa takut pada kebaikan Dewi Sri.  Selain dari tujuan-tujuan memenuhi kebutuhan emosi religius tadi, upacara ini juga menjadi sarana untuk menyambung silaturahmi, serta mempererat tali persaudaraan antar manusia.

0 komentar:

Poskan Komentar