Rabu, 06 Maret 2013

SEBUAH PENGANTAR DALAM MEMAHAMI FILSAFAT ILMU (Resume Buku))


Nama buku      : Filsafat Ilmu : Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu   Pengetahuan
Pengarang        : Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM
Penerbit           : Liberty Yogyakarta
Tahun terbit   : 2010
Tebal               : 189 Halaman
Cetakan           : Kelima
ISBN                 : 979-499-196-1

SEBUAH PENGANTAR DALAM MEMAHAMI FILSAFAT ILMU
(Oleh : Abdul Aziz/1211502001)
Buku Filsafat Ilmu ini disusun oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Di dalam buku ini dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan Filsafat Ilmu. Buku ini lahir dilatarbelakangi dengan
adanya mata kuliah Filsafat Ilmu sebagai mata kuliah wajib seluruh fakultas di lingkungan Universitas Gajah Mada. Di dalam buku ini terdiri dari beberapa pembahasan, setiap pembahasan ditulis oleh penulis yang berbeda. Pembahasan-pembahasan tersebut dibagi-bagi dalam berbagai bab, yaitu:
Bab pertama membahas tentang kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan, ditulis oleh Koento Wibisiono Siswonihardjo. Penulis berpendapat bahwa berfilsafat merupakan manifestasi kegiatan intelektual yang meletakkan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi dalam kehidupan masyarakat ilmiah yang diawali orang-orang Yunani Kuno pada abad ke-6 SM.
Selain itu, dibahas juga mengenai komponen-komponen penyusun ilmu, klasifikasi ilmu pengetahuan yang dikemukakan oleh beberapa filosof diantaranya sebeagai berikut;
-          Menurut ajaran filsafat Auguste Comte yang biasa disebut sebagai Bapak Sosiologi, ia meletakkan matematika sebagai dasar bagi semua cabang ilmu, dan di atas matematika,  secara berurutan ia tunjukkan ilmu astronomi, fisika, kimia, biologi, dan fisika sosial atau sosiologi dalam susunan hierarkhis atas dasar komplektalitas gejala-gejala yang dihadapi oleh masing-masing cabang ilmu.
-           Wilhelm Dilthey mengajukan klasifikasi lain, dan membagi ilmu pengetahuan kedalam Natuurwissenschaft dan Geisteswissenchaft dengan menjelaskan bahwa yang satu sebagai science  of  the woeld. Sedangkan yang lainnya adalah science of Geist. Yang satu menggunakan metode Erklaeren dan yang lain Verstehen.
-          Juergen Habermas salah seorang tokoh dikalangan madzhab Frankfrut mengajukan klasifikasi dengan the basic human interest sebagai dasar, dengan klasifikasi ilmu-ilmu empiris-analitis, sosial kritis dan historis-hermeneutis, dengan menggunakan metode empirik, intelektual, rasionalistik, dan hermeneutik. 
Selanjutnya, menjelaskan tentang berbagai alternatif untuk mengantisipasi fenomena perubahan dalam masyarakat,  yang berupa masa transisi dengan budaya agraris-tradisional menuju masyarakat dengan budaya industri-modern. Masa transisi budaya etnis-kedaerahan menuju budaya nasional kebangsaan. Budaya nasional-kebangsaan menuju budaya global-mondial.
Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya yaitu ilmu pengetahuan . Filsafat ilmu diarahkan pada komponen-konponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu Ontologi ilmu, epistemologi ilmu, dan aksiologi ilmu. Pertama, Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu (being sein, het zijn). Kedua, epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tatacara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan. Ketiga, Aksiologi Ilmu, meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik-material.
Bab kedua, ditulis oleh  Ali Mudhofir membahas tentang pengenalan filsafat yang meliputi arti filsafat sebagai suatu sikap, suatu metode, kelompok persoalan, sekelompok teori atau sistem pemikiran, dan analisis logis. Objek material dan formal filsafat pun dibahas dalam bab ini. Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaranpemikiran, sesuatu hal yang diselidiki atau dipelajari. Sedangkan objek formalnya adalah cara memandang, cara meninjau terhadap objek material yang digunakan. Selain itu, dibahas juga hubungan ilmu dengan filsafat, persoalan filsafat yang mempunyai ciri-ciri: bersifat sangat umum, tidak menyangkut fakta, bersangkutan dengan nilai-nilai, bersifat kritis, bersifat sinoptik, dan bersifat implikatif, serta cabang-cabang dan aliran-aliran filsafat yang lahir karena persoalan-persoalan filsafat.
Bab ketiga ditulis oleh Imam Wahyudi membahas tentang ruang lingkup dan kedudukan filsafat ilmu. Ruang lingkup filsafat ilmu tersebut meliputi filsafat ilmu umum, filsafat ilmu khusus, filsafat ilmu terapan dan filsafat ilmu murni. Adapun kedudukan filsafat ilmu ini dikaitkan dengan epistemologi, cabang filsafat lain, serta ilmu-ilmu lain.
Bab keempat ditulis oleh Rizal Mustansyir membahas tentang sejarah perkembangan ilmu mulai dari zaman pra Yunani Kuno beserta karakteristiknya, zaman Yunani Kuno beserta tokoh-tokohnya, zaman pertengahan, zaman Renaissance beserta tokoh-tokohnya, zaman modern, serta zaman kontemporer.
Bab kelima ditulis oleh Sri Soeprapto membahas tentang landasan penelaahan ilmu yang meliputi pandangan-pandangan para ilmuan dalam mempertimbangkan nilai-nilai hidup, berdasarkan pertimbangan nilai yang diperhatikannya, maka pandangan para ilmuwan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu;
1.      Para ilmuwan yang hanya menggunakan satu pertimabangan nilai yaitu nilai kebenaran dan dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan nilai-nilai metafisik yang lain, yaitu nilai etik, kesusilaan, dan kegunaanya akan sampai pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai.
2.      Para ilmuwan yang memandang sangat perlu dimasukannya pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran, yang akhirnya sampai pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus taut nilai.
Jujun suriasumanti berpendapat bahwa semua pengatahuan baik itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja pada dasarnya memiliki  tiga landasan, yaitu;
-       Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu.
-        Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu meruapakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuwan, kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuwan, sah disebut keilmuwan. Dan,
-        Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya.

Bab keenam ditulis oleh Noos Ms Bakry membahas tentang sarana berpikir ilmiah yang meliputi bahasa ilmiah, logika dan matematika, serta logika dan statistika. Bahasa ilmiah ialah kalimat berita yang merupakan suatu pernyataan-pernyataan atau pendapat-pendapat.
Penggolongan bahasa, pada umumnya dibedakan antara bahasa alami dan bahasa buatan. Bahasa Alami ialah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas dasar pengaruh alam sekelilingnya. Dan bahasa alami dibedakan atas dua macam, yakni bahasa isyarat dan bahasa biasa (bahasa yang digunakan sehari-hari). Sedangkan, Bahasa Buatan ialah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa Buatan dibedakan atas dua macam, yaitu Bahasa Istilahi (rumusannya diambil dari bahasa biasa yang diberi arti tertentu) dan Bahasa Artifisial (murni bahasa buatan, biasa disebut dengan bahasa simbolik).
Definisi ialah penjelasan apa yang dimaksudkan dengan sesuatu istilah, atau dengan kata lain definisi ialah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu istilah.
Bab ketujuh ditulis oleh Sri Soeprapto. membahas tentang pengertian ilmu, ciri ilmu, dan metode ilmiah. Dalam buku ini, ilmu diartikan sebagai suatu bentuk aktivitas manusia untuk memperoleh suatu pengetahuan dan pemahaman tentang alam dan sekitarnya. Ciri dari ilmu adalah ujud aktivitas manusia dan aktivitas tersebut. Adapun metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan langkah untuk memperoleh atau mengembangkan pengetahuan.
Bab kedelapan ditulis oleh Abbas Hamami M. membahas tentang arti kebenaran, kata “kebenaran”  dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang kongkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi artinya ialah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Kebenaran itu dikaitkan dengan bebrapa objek, yakni kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan, kebenaran yang dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaiamana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya itu.
Dalam perkembangan filsafat perbincangan tentang kebenaran telah dimulai sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aristoteles, teori kebenaran harus paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-teori kebenaran yang telah terlembaga itu antara lain;
-          Teori Kebenaran Korespondensi
-          Teori Kebenaran Koherensi
-          Teori Kebenaran Pragmatis
-          Teori Kebenaran Sintaksis
-          Teori Kebenaran Semantis
-          Teori Kebenaran Non-deskripsi
-          Teori Kebenaran Logis yang berkelebihan.
Selain itu, penulis menjelaskan bagaimana sifat kebenaran ilmiah. Seperti yang diketahui Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah – yang pada hakikatnya berupa teori melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif.
Bab kesembilan ditulis oleh Sindung Tjahyadi membahas tentang hubungan antara ilmu dan teknologi, dari penelusuran terhadap konsep ilmu dan teknologi dengan berbagai  aspek dan nuasnsanya, beberapa titik singgung antara keduanya, yaitu : (1) baik ilmu maupun teknologi merupakan komponen dari kebudayan . (2) baik ilmu maupun teknologi memiliki aspek ideansial maupun faktual, dimensi abstrak maupun konkrit, dan aspek teoritis maupun praktis. (3) terdapat hubungan dialektis (timbal balik) antara ilmu dan teknologi,, pada satu sisi ilmu menyediakan bahan pendukung penting bagi kemajuan teknologi yakni berupa teori-teori, dan di sisi lain penemuan-penemuan teknologis sangat membantu perluasan cakrawala penelitian ilmiah. (4) sebagai klarifikasi konsep, istilah ilmu lebih tepat diakaitkan dengan konteks teknologis, sedangkan sebaliknya digunakan dalam konteks teknis. Hubungan ilmu dan kebudayaan, terdapat pemahaman yang memisahkan ilmu dan kebudayaan baik secara konseptual maupun secara faktual tidak dapat diterima lagi. Ilmu merupakan komponen penting dari kebudayaan, bahkan kecendrungan akhir abad ini semakin memberi tempat bagi dominasi ilmu dalam menciptakan dunia kemasuk-akalan.
 Serta hubungan teknologi dan kebudayaan yang dapat ditilik dengan dua sudut pandang, yakni dari sudut pandang teknologi, dari sudut pandang ini terbuka alternatif untuk memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positivis dan dalam paradigma teknologi tepat. Paradigma teknologi psitivism  yang didasari oleh metafisika materalisitis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, menguras, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas. Sedangkan paradigma teknologi tepat lebih menuntun  kearifan manusia. Dari sudut pandang kebudayaan, bagaimanapun teknologi dewasa ini merupakan anak kandung kebudayaan barat.
Bab kesepuluh ditulis oleh Abbas Hamami M. membahas tentang etika keilmuan yang meliputi etika individual dan etika sosial. Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri dalam kedudukan manusia sebagai warga negara. Etika sosial membahas tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat. Dalam masalah ini etika individual tidak dapat dipisahkan dengan etika sosial , karena kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota masyarakat atau umat manusia saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan itu antara lain adalah; pertama, tidak adanya sifat pamrih (disinterstedness) dalam artian menghilangkan kesenangan pribadi dalam mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektif. Kedua, bersikap selektif, yakni suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap pelbagai hal yang dihadapi. Ketiga,  adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta mind. Keempat, adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan dan dengan merasa pasti bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian. Kelima, adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan.

0 komentar:

Poskan Komentar